Cepen Mago "Valentine? So?"


VALENTINE? SO…?

                Di saat orang-orang tengah asyik merayakan tanggal 14 februari, aku malah duduk sendiri di pojok café sambil menyereput hot chocolate. Sejak pertama kali aku mengenal kata Hari Valentine aku sama sekali tidak pernah merayakannya, kadang aku merasa iri. Dan yang aku tahu Hari Valentine adalah hari kasih sayang, dimana mereka saling memberi coklat berbentuk hati, atau memberi bunga dan hari dimana semuanya didominasi oleh warna pink.
Ku perhatikan orang-orang sekitar ku, mereka duduk berpasangan jelas sekali raut kebahagian di antara pasangan itu. Tapi! Ada satu sosok yang menarik perhatianku, seorang laki-laki yang malah tengah asyik memainkan handphonennya padahal di depannya ada seorang perempuan cantik yang menemaninya. “Kenapa mereka berbeda? Kenapa tak ada satupun coklat atau benda lain yang berbentuk hati dan berwarna pink di meja mereka?” pikirku dalam hati.
                Aku terus memerhatikan pasangan itu, kulihat wajah si perempuan sudah menunjukan tanda-tanda kekesalan. Mungkin laki-laki itu terlalu cuek atau ada hal lain yang sedang direncanakan oleh laki-laki itu. Perempuan itu berdiri.
“Aku bosan! Apa bisa sehari bersikap romantis seperti laki-laki lain! Aku ingin seperti perempuan lainnya, merayakan malam ini dengan pasangannya diberi coklat atau bunga.” perempuan itu diam, mengatur nafasnya sejenak. Walaupun suaranya tidak terlalu keras tapi cukup membuat orang-orang di café ini menoleh ke arah mereka. Dan yg membuatku heran tak ada tanggapan apapun dari laki-laki itu, dia hanya menatap mata si perempuan itu.
“Kamu jahat! Aku juga ingin merasakan indahnya hari ini bersama orang yg aku sayang” perempuan itu mengambil tasnya dan pergi dengan mata yg memerah mungkin dia ingin menangis namun malu. “Lebay! Seperti dalam sinetron-sinetron yang biasa bundaku lihat” ucapku dalam hati
                Tak lama aku pun keluar dari café itu, tujuan terakhirku adalah sebuah taman kecil yang berada di sudut kota. Saat sampai di taman aku langsung merasa badmood karena ternyata taman ini juga banyak dikunjungi orang untuk merayakan Hari Valentine. Memang suasananya romantis jadi tak heran kalau di taman ini juga banyak pasangan yang merayakan hari kasih sayang ini disini.
“Hhhh adakah tempat khusus untuk orang yang tak memiliki pasangan seperti aku? Aku iri,” aku putuskan untuk memilih duduk di salah satu bangku di taman ini sedikit menjauh dari pasangan-pasangan itu. Aku jadi ingat perempuan yang tadi di café.
“Punya pasanganpun gak menjamin kita bakal bisa ngerayain hari ini,” pikirku. “Tapikan setidaknya ada pasangan.” Hhhh lagi-lagi aku mengeluh karena statusku.
Sesosok laki-laki tiba-tiba membuyarkan lamunanku, tanpa meminta izin dia langsung duduk di sebelahku. Saat aku melihatnya lebih dekat, aku terkejut “laki-laki ini…?” aku berpikir sebentar , ah! Aku memicingkan mataku.
 “Kamu itu laki-laki yang ada di café tadi bukan, kenapa kamu bisa ada disini?” tanyaku “Apa kamu juga suka ke tempat ini?” tanyaku lagi. Dia menoleh raut mukanya terlihat jelas menunjukan kalau dia kebingungan. Wajarlah dia tidak kenal aku tapi tiba-tiba aku berkata seperti itu.
 “Karena aku menyukai tempat ini,” jawab laki-laki itu. Kemudian ia bertanya, “kamu sendiri, apa kamu juga sama seperti aku yang menyukai tempat ini?“
“Iya aku juga suka tempat ini. Oh iya, namaku Reina,” aku menyodorkan tanganku, “hmm tadi aku melihatmu di café” kataku lagi
“Melihatku dimarahi oleh pacarku juga?” tanyanya tanpa membalas uluran tanganku, aku mengangguk menarik kembali uluran tanganku
               
Tak ada jawaban darinya, dia malah diam menerawang ke arah jalan.
“Kenapa kamu enggak merayakan hari  ini? Tadi kulihat enggak ada benda apapun yang biasa ada di hari Valentine,” tanyaku tiba-tiba.
Tetapi dia tetap diam. Sesaat aku sadar pertanyaan itu terlalu cepat kutanyakan bahkan bisa dibilang aku terlalu berani untuk menanyakan hal seperti itu kepada orang yang baru aku kenal. “Haduh aku pasti salah bicara,” rutukku dalam hati.
Dia menghela nafasnya, “apa harus selalu di hari Valentine?” dia menggantungkan kalimatnya. “Maksudmu?” tanyaku.
“Apa hari kasih sayang itu hanya di hari Valentine? Lalu bagaimana dengan hari-hari lainnya? Jadi harus di hari Valentine saja kita memberikan kasih sayang kita?”
“Tidak juga sih,” jawabku. “Tapikan kasihan pacarmu, dia juga ingin merayakannya, kurasa dia merasa iri”
“Kenapa harus iri? Tanpa ada tanggal ini pun aku akan tetap menyayanginya, aku akan memberikannya kasih sayang, tanpa tanggal ini pun aku bisa memberikannya coklat berbentuk hati dan bunga,”
“Tapi hari ini spesial”
“Aku punya hari tersendiri untuknya, hari dimana hanya aku dan dia yg merasakannya. Hari yang lebih bermakna dan buatku hari itu lebih indah dari hari ini”
“Kapan?” tanyaku, ingin tahu.
“Hari dimana pertama kali cerita aku dan dia dimulai” ucapnya bangga sambil tersenyum
                Aku juga ikut tersenyum mendengar kata-kata terakhirnya, dibalik sikapnya yang cuek ternyata laki-laki itu jauh di dalamnya romantis juga. Kupikir memang benar, tidak perlu merasa iri dengan mereka yang merayakan Valentine. Karena, tanpa ada hari Valentine pun kita masih bisa memberi dan menunjukan kasih sayang kita. Dan satu hal lagi “Setiap orang punya harinya tersendiri, meski tanpa coklat berbentuk hati atau di dominasi warna pink dan yang pasti hari itu jauh lebih bermakna daripada hari apapun.” 

1 komentar

Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...