Cerpen Mago "Aku Pasti Bisa"

Aku Pasti Bisa! 





 Aku duduk di balkon kamarku sambil memandangi langit yang sepi dan tak satupun ku lihat bintang ada disana. Sambil terus memperhatikan langit pikiranku bermain kesanasini sampai akhirnya aku tersadar kalau “oiya dua hari lagi UTS!” tapi setelah itu aku tidak langsung masuk kamar dan membaca-baca bukuku aku malah tetap santai dan asyik di luar, mengambil notebook dan mulai menulis catatan-catatan kecil tentang hari ini, seperti diary! Hari ini aku harus mulai belajar untuk UTS besok, hhh rasanya malas untuk belajar tidak ada semangatnya sama sekali. Otak dan pikiranku saja tidak sama sekali mengarah ke UTS justru masih tetap memikirkan sosok itu! laki-laki bergitar yang setiap hari aku lihat di sekolah . “aduuhhhh engga-engga! Untuk apa memikirkan hal yang gak pasti!” ya berkali-kali aku berkata seperti itu untuk apa memikirkan hal yg gak pasti tapi kenyataannya aku tetap saja tidak bisa lupa. Ok!fokus UTS! Kakiku membawa aku ke sebuah rak buku besar yg ada di kamarku, bukannya mengambil buku aku malah duduk di kasur dan memperhatikan buku-buku yang berserakan itu. jangankan membacanya melihatnya pun sudah enggan, buku-buku itu tebal dengan kalimat-kalimat yg kadang sulit aku mengerti di tambah lagi pelajaran eksak yg di dalamnya banyak angka-angka juga rumus-rumus panjang! Aku sendiri bingung, aku memilih jurusan IPA, tapi sama sekali tidak suka dengan angka-angka. Tapi mau bagaimana lagi aku harus tetap belajar setidaknya ada beberapa saja yang menyangkut di otakku supaya besok aku tidak terlalu kesulitan mengerjakannya. Pelajaran untuk besok B.indonesia dan Matematika, “ya ampun kenapa UTS pertama harus di awali dengan matematika” mau tidak mau aku harus belajar, untuk sekarang aku fokuskan belajar matematika dulu, salah satu pelajaran yang dari dulu sulit untuk aku pahami, benar-benar menguras otakku. Sama seperti dia! Sulit dipahami dan dimengerti. Lembaran demi lembaran kertas aku buka sampai akhirnya aku memilih untuk belajar suku banyak dulu. Melihat rumus-rumus yang berjajar saja sudah membuat nafasku sesak, aku mulai mengerjakan latihan-latihan soal. sudah 1 jam aku berlatih soal-soal tapi baru 5 soal yang aku selesaikan dengan sempurna yang lainnya cuma setengah-setengah. Aahhhhh! Aku kesal sendiri “udahan ah males!” aku menutup bukunya dan menaruh pensilku. pasti selalu BT kalau mengerjakan pelajaran ini! “sebenarnya matematika itu hanya berisi angka 0-9, tapi kenapa dibuat rumit? Toh kita cuma harus nyocokin angka 0 sampai 9 buat bentuk jawaban yang bener” lamunanku terhenti saat aku sadar kalau masih ada satu pelajaran yg harus aku hapalkan, B.Indonesia! yaa aku lebih senang belajar ini, walaupun banyak hal yang harus aku hapalkan . Dan akhirnya hari ini datang juga, aku taruh alas meja dan tempat pensil di meja juga kartu UTS. Aku sudah siap untuk UTS hari ini, aku berkata dalam hati kenyataannya sih gak pernah siap UTS matematika. Aku senyum-senyum sendiri meremehkan diriku sendiri. “sikap beri salam” kata salah seorang temanku yg menjadi KM di ruangan ini saat melihat pengawas ruanganku sudah datang. Dia menaruh tasnya dan mulai merobek amplop besar yang berisi soal-soal UTS. Dia membagikannya ke setiap meja, lalu aku mulai menulis nama dan lain-lainnya di lembar jawabanku pelajaran pertama adalah B.indonesia aku pun mulai membaca soal-soalnya, dengan lancar aku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu tak butuh waktu yang terlalu lama untuk mengerjakannya. Ku lihat ke sekeliling ruangan, banyak hal yang terjadi disini ada yang diam melamun karena mungkin sudah selesei mengerjakannya ada yang serius berpikir dan ini yg paling seru ada yg sibuk memanggil temannya untuk meminta jawaban ada juga yang sedang memberikan jawabannya . inilah masa-masa putih abu! Bel tanda pelajaran pertama berakhir, kita semua mengumpulkan lembar jawaban kita dan mengambil soal pelajaran yang kedua. Matematika. Ah! kalau pelajaran ini entahlah, dengan waktu 90 menit aku tidak yakin bisa menjawab semua soal ini sendirian. Dan benar sajakan baru baca soal yg pertama saja aku sudah tidak bisa, apa lagi ke soal-soal yang lainnya. Ku lihat pengawasnya baik langsung saja aku lirik kesana-kesini ternyata teman-temanku yang lain sudah sibuk saling memanggil satu sama lain. Tapi ada juga sih yang benar-benar serius mengerjakan , mataku tertuju pada salah satu temanku yang ku anggap cukup pintar dalam pelajaran matematika. Akupun memanggilnya “ Rin” satu kali panggilan saja sudah cukup untuk membuatnya berbalik ke arahku. “minta jawaban dong” kataku dengan suara yang pelan, dia pun membalas omonganku dengan suara yg pelan juga “nanti ya masih ngitung nih” akupun hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kecil. Sambil menunggu aku malah sibuk melamun memperhatikan kertas jawabanku yang masih bersih.aku bertanya-tanya dalam hati“ kenapa sih aku gak pernah bisa ngerjain soal ini sendirian?” Lamunanku terhenti saat aku mendengar suara orang yang memanggilku“sst! Minta jawban dong” kata salah seorang temanku. “belum” ucapku pelan. Dari pada melamun lagi langsung ku arahkan kepalaku ke arah belakang ku lihat jawaban temanku dan mulai menulisnya . lalu jawaban dari sana-sini mulai berdatangan hingga karena terlalu sibuknya menyontek waktupun sudah hampir mau satu jam tapi masih ada 4 soal lagi yang harus aku kerjakan. aku dan teman-temanku sudah mulai gelisah karena kita semua sama-sama baru mengerjakan 6 soal itupun tidak yakin benar semua. Waktu berputar terasa sangat cepat pengawas jadi ketat menjaga kita, dia berjalan-jalan melihat ke setiap meja, aku melihat salah seorang temanku langsung cepat-cepat memasukan contekan ke kolong meja dan akhirnya pengawas itu berhenti di belakang . “haduh kalau udah kaya gini ya cuma bisa pasrah dan diem” ucapku dalam hati Tettttt…. Bel tanda pelajaran berakhir akhirnya berbunyi juga dan di saat itu pula aku cuma bisa menghela nafas. UTS hari ini tidak begitu lancar ada sedikit rasa sesal sih kenapa semalam aku tidak serius belajar. Aku sudah membayangkan jeleknya nilai matematiku nanti, tapi sudahlah ini bukan takdir tapi aku sendiri yang sudah menentukan hasilnya sendiri aku memilih untuk tidak belajar berarti aku sudah menentukan kalau nilaiku lebih baik jelek. Untuk besok dan seterusnya aku harus belajar karena aku tau sebenarnya aku pasti bisa! Hanya saja rasa malas yang memang benar-benar mengambil alih semuanya! Sulit untuk di kalahkan .

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...