Cerpen Mago "My Lovely Guitarist"

My Lovely Guitarist
oleh: Tasya Diah Rachmadiani (@TasyadiahR)


Pagi ini terasa begitu lebih segar untukku. Kuhirup dalam-dalam udara yang berada di atmosfer kamarku. Kulirik jam dindingku, lalu berjalan keluar dari kamarku dan selanjutnya berlari menuju kamar mandi di lantai bawah.
Sial, jangan sampai aku kalah oleh bocah itu lagi
Beberapa meter dari pintu kamar mandi, aku melihat adikku sedang berdiri beberapa meter dari pintu kamar mandi juga, sama sepertiku. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menuju pintu kamar mandi dan kudorong adikku dengan badanku sehingga dia bergeser dan aku dengan leluasa bisa masuk ke kamar mandi.
“AH ! harusnya hari ini aku bisa mendahului mu lagi kak” omelnya kesal.
“Bodo amaaatt ! aku mau mandi, aku gak mau telat lagi !” teriakku sambil tertawa.
Aku Aphrodite, keluarga ku adalah keluarga yang sederhana, rumahku pun tergolong sederhana. Anehnya,  meski rumahku memiliki kamar masing-masing untukku dan adikku, satu kamar tamu dan satu untuk kamar kedua orang tua ku, orangtuaku hanya membuat satu kamar mandi keluarga. Itu yang membuat setiap pagiku ramai dengan perebutan kamar mandi dengan adikku, Kamila. Orangtua ku sih enak karena memiliki kamar mandi di dalam kamar mereka.
Namun aku menikmati setiap pertengkaran kecilku dengan Kamila, karena hal itu cukup membuatku bersemangat. Tak ada kebahagiaan lain yang lebih menyenangkan daripada melihat Kamila merengek karena takut terlambat ke sekolah.
***
Selesai mandi, aku pun bersiap untuk berangkat ke sekolah. Aku biasa berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepedah pemberian mendiang kakekku. Meskipun sudah tua, sepedah itu masih bekerja dengan sangat baik, dan aku tidak malu untuk menggunakannya. Bagiku itu sudah menjadi benda turun-temurun dari keluargaku. Menghargai barang-barang tua adalah budaya dari keluargaku yang sangat kusukai.
Aku berlari menghampiri kedua orang tuaku dan adik kecilku Kamila untuk mengambil bekal makan siangku. Setelah berpamitan, aku mengambil sepedahku lalu bergegas pergi ke sekolah.
***
Sepedahku mendarat di pekarangan sekolah dengan tepat waktu. Hanya tinggal beberapa menit gerbang sekolah akan ditutup.
Untung saja aku tidak terlambat. syukurku dalam hati.
Saat melewati koridor, banyak siswa-siswa yang menawariku untuk dibawakan tas, atau hanya sekedar menyapaku. Namun aku menanggapinya dengan enggan dan risih. Aku bersyukur pada tuhan yang telah menciptakan kelebihan pada penampilanku yang sering dibilang seperti Dewi Kecantikan, Aphrodite. Yah, aku merasa bertuntung orangtua ku menamaiku begitu. Namun, aku tidak menyukai perlakuan berlebihan yang kuterima dari para siswa-siswa yang menyebalkan seperti ini.
Saat aku melewati mading sekolah, Aku melihat pamflet tentang Festival Budaya Tradisional  Indonesia yang akan diselenggarakan minggu ini. Aku cukup tertarik untuk datang dan menikmati festival itu. Tapi saat kulihat tanggalnya bertepatan dengan acaraku dengan sahabatku Hermes, aku urungkan niatku untuk datang. Aku sudah berjanji akan menemani Hermes hari itu.
“Tertarik untuk datang ?” tanya seseorang disebelahku.
“Sepertinya tidak, aku sudah ada janji lain” jawabku tanpa melirik kearah orang yang bertanya padaku.
“Oh begitu, tapi jika kau ada waktu, datanglah. Disana kami akan memperkenalkan musik-musik daerah indonesia” jawabnya.
Saat aku melirik kearahnya, dia sudah berjalan menuju kelasnya. Sosoknya tinggi, rambutnya acak-acakan dan berpenampilan agak berantakan, dan yang pasti aku sama sekali tidak mengenalnya.
Cowok misterius. ucapku dalam hati.
***
Bel pertanda pulang sudah berbunyi, aku melihat Hermes berjalan mendekati mejaku.
“Hei, besok hari Minggu, kau sudah berjanji untuk menemaniku” ucapnya dengan senyum tengil, yang sudah menjadi khasnya.
“Iya, bawel deh” jawabku datar.
“Aku sudah tidak sabar untuk kencan pertama kita” ucapnya lagi dengan wajah gembira.
“Sudah kubilang, ini bukan kencan. Aku hanya terpaksa menemanimu karena kau sahabatku yang sedang patah hati karena baru saja putus dengan Selene” jawabku sedikit kesal.
“Hehe iya Aphrodite, aku Cuma bercanda ko” ucapnya dengan senyum jahil.
“Oke sampai ketemu besok ya, aku jemput seperti biasa” ucapnya lagi, lalu pergi meninggalkanku.
Aku berjalan menuju sepedahku dan menemukan kedua ban sepedahku kempes.
Bagus, sekarang aku harus menenteng sepedahku sampai rumah, karena Hermes sudah jauh meninggalkanku. rutukku dalam hati.
“Sepedahmu kenapa ?” tanya seseorang dibelakangku.
“Kau bisa lihat sendiri, sepedahku kempes. Dasar sepedah tua” jawabku kesal, tanpa berpaling pada penanya dibelakangku.
“Mau ku bantu membawanya kerumahmu ? tenang saja, bagasi mobilku cukup besar untuk menyimpan sepedahmu itu” tawarnya padaku.
Akirnya aku menoleh, dan menemukan sosok cowok yang tadi pagi kulihat di mading. Hanya saja, kali ini aku melihatnya dari bagian depan. Badannya tinggi tapi agak bungkuk, dengan rambut acak-acakan, seperti seragam yang ia pakai.
“Eh, maaf aku kira siapa. Kebiasaanku tak pernah melihat teman bicaraku” ujarku malu.
“Tidak apa, namaku Ares. Mari kuantar kamu dan sepedahmu pulang” tawarnya dengan senyuman yang memesona.
“Terimakasih” jawabku dengan senyuman.
***
Bayang-bayang sosok Ares tak dapat hilang dari pikiranku. Senyumannya, kerendahan hatinya, membuatku sulit untuk melupakannya. Aku seperti sudah mengenalnya sejak lama, seperti deja vu yang benar-benar membuatku penasaran. Aku ingin mengenal dia lebih jauh. niatku dalam hati.
“Dit, tadi yang mengantar kamu siapa ? pacarmu ya ? tumben bukan sama Hermes ? kau sudah putus dengan Hermes ?” tiba-tiba mamahku datang membuyarkan lamunanku.
“Hermes bukan pacarku mah, dan yang tadi mengantarku juga bukan pacarku. Hanya teman yang ternyata secara kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah kita” jawabku jengkel.
“Oh yaudah deh, mamah percaya. Tapi sekarang kau harus tidur, sudah jam 11 malam” omel mamahku pelan.
“Iya mah” jawabku.
***
Jam tanganku sudah menunjukan pukul 2 siang. Namun Hermes belum juga datang menjemputku, padahal dia bilang kalau dia akan menjemputku jam 1.
Tiba-tiba handphone ku bergetar. Saat ku lirik siapa pengirimnya, aku lihat pesan itu berasal dari Hermes. lalu kubuka pesan itu dengan emosi.
Aphrodite, sahabatku yang paling cantik. Maaf acara kita hari ini gagal. Selene dan aku baru saja berbalikan, dan kami akan pergi hari ini. maafkan aku ya ;)
Hermes.
Sialan Hermes, dia benar-benar mengerjai ku. maki ku dalam hati.
Aku jadi teringat Festival Budaya Tradisional Indonesia yang diselenggarakan hari ini, dan tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung mengambil sepedahku dan pergi ke acara yang kebetulan letakknya tidak terlalu jauh dari rumahku itu.
***
Terlihat banyak sekali stand-stand makanan tradisional disepanjang lapangan tempat Festival itu berlangsung. Ada juga tenda-tenda yang berisi pertunjukan wayang dan alat-alat musik seperti angklung dan seruling. Tapi diantara semuanya, yang menjadi perhatian utamaku adalah panggung yang berada tepat ditengah-tengah stand dan tenda-tenda yang membentuk lingkaran yang terlihat sangat unik.
Aku berlari-lari kecil menuju keramaian di depanku, tanpa sadar kini aku sudah berada di posisi paling depan, yang paling dekat dengan panggung. Begitu terkejutnya aku, saat melihat gitaris yang kini sedang tampil membawakan lagu Bengawan Solo yang sudah di Aransemen dengan sangat indah, adalah Ares. Ares yang kemarin benar-benar menyita pikiranku. Ares, cowok misterius yang membuatku tergila-gila dalam satu hari mengenalnya.
***
Tidak terasa waktu di jam tanganku sudah menunjukan pukul 6 petang. Sosok Ares yang memainkan Gitar, benar-benar menghipnotisku dan menghentikan akal sehatku.
Aku pasti dimarahi papah, pulang jam segini. Panikku
Saat aku berjalan menuju tempat sepedahku diparkir, aku semakin panik karena aku tidak menemukan sepedahku dimana-mana. SEPEDAHKU HILANG.
Aku panik sepanik paniknya orang panik. Mondar-mandir kesana-kesini seperti anak hilang yang mencari ibunya.
“Lengkap sudah, selain dimarahi karena pulang terlambat, aku akan dimarahi karena menghilangkan sepedah kesayangan oppa” Ucapku putus asa.
“Sepedahmu hilang ?” tanya seseorang disebelahku.
“Iya dan karena hal itu aku pasti akan mati hari ini” jawabku, tanpa menoleh sedikit pun.
“Apa benar-benar sudah menjadi kebiasaanmu, untuk tidak menatap lawan bicaramu ?” ucapnya datar. Spontan aku berbalik menatapnya. Selain merasa tersindir karena hal itu memang benar adanya, aku juga merasa denyut jantungku berdetak semakin cepat karena kaget yang amat sangat. Aku benar-benar terkejut, saat melihat aku sedang berhadapan lagi dengan—Ares.
“Em.. Maaf aku—aku terlalu panik karena sepedahku hilang, dan—dan aku—. Maafkan aku” ucapku lemas sambil tertunduk dengan perasaan bercampur aduk.
“Kau memang selalu seperti itu, bukan karena kau panik” jawabnya diselingi oleh tawa yang renyah.
“Sepedahmu di pindahkan oleh panitia Festival ke tempat yang lebih aman, salahmu karena sembrono dalam menyimpan hal sepenting itu” ucapnya lagi sambil melangkah pergi. Aku terdiam memandangnya, mencoba mencerna setiap ucapan yang ia lontarkan.
Tunggu sepedahku ? berarti sepedahku aman ? tidak hilang ?!. tanya ku dalam hati.
“Kau mau tetap diam disitu, atau ikut aku dan mengambil sepedahmu, lalu pulang tanpa dimarahi orangtua mu ?” teriaknya membuyarkan lamunanku.
Tunggu bagaimana dia bisa tau ? Dia memperhatikanku ?. tanyaku dalam hati. Tanpa kusadari bibirku tersenyum kecil.
“I—iya, tunggu aku” aku pun berlari menghampirinya, untuk kedua kali nya dia membantuku. Dan untuk kesekian kalinya dia benar-benar membuatku terpesona.
Setelah mengambil sepedahku, dan mengucapkan terimakasih pada Panitia Festival khusunya Ares. Aku pun mengayuh sepedahku pulang kerumah.
***
Sejak Festival kemarin, aku jadi sering datang ke setiap acara-acara yang berbau tradisional yang diselenggarakan di daerahku. Aku memang sangat menyukai Budaya-budaya Tradisional Indonesia sejak dulu. Namun kini aku lebih menyukainya semenjak kedatangan Ares dikehidupanku.
“Hai Dit, minggu depan ada pertunjukan Alat musik Arumba di Gedung Merdeka, dekat rumahmu. Kamu mau datang ?” tanya Ares, saat aku sedang melempar bola free throw di lapang basket, seusai pelajaran terakhir telah berakhir.
“Aku belum tau Ar” jawabku sambil melempar bola basket, dan tepat memasuki ring. Lalu menoleh pada Ares.
“Aku berharap kamu datang lagi, aku selalu berharap kau datang” ucapnya lagi dengan datar dan ekspresi muka yang tak ku mengerti, namun sukses membuatku tersipu malu. Tapi aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dia pun lalu pergi menuju tempat parkiran. Namun, bukan untuk mengambil mobilnya, karena sepertinya dia tidak membawa mobilnya hari ini. Karena dia menggunakan sepedah. Aku sangat kaget melihatnya.
“Mau bersepedah pulang bersamaku ?” tawarnya sambil tersenyum.
“MAU !” jawabku bersemangat lalu berlari mengambil sepedahku.
***
Semakin hari, semakin dekat hubunganku dengan Ares. Aku merasa nyaman setiap kali berada di dekatnya. Bersamanya membuat hatiku berdebar-debar. Aku sangat menyukai gaya berantakannya, senyum jahilnya, muka tengilnya, dan yang paling kusuka adalah sikap pemalunya yang terkadang suka mucul saat dia bersamaku. Sepertinya aku menyukai setiap detail kecil tentang Ares.
Karena Ares pengetahuan tentang Budaya dan Musikku bertambah, aku jadi tau aliran-aliran musik baru yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Dia memberitahu aku tentang Arsis dan Tesis, dia juga menunjukan aku bagaimana menggunakan metronom. Bahkan sesekali, dia mengajakku ke sanggar milik kakeknya, lalu mengajarkan aku memainkan alat Musik Gamelan seperti, Angklung, Arumba, Dll. Sungguh di sayangkan kalau generasi muda sekarang kurang menyukai alat musik tradisional yang menurutku sangat menarik dan unik.
“Hai Dit, aku dengar kau sedang dekat dengan Ares ya ?” tanya Hermes menyadarkanku dari lamunan.
“Tau dari mana kamu ? sok tau deh” jawabku ketus.
“Hati-hati sama Ares Dit, aku banyak denger hal kurang baik tentang Ares. Kau pun tau semua mantannya adalah cewek-cewek yang ‘populer'. Yah kau tau sendiri lah Dit, maksudku apa” ucapnya lagi dengan wajah meyakinkan. Ucapan Hermes mulai membuatku takut. Mengapa aku sama sekali tidak berpikir kearah sana ?. rutukku dalam hati.
***
Sepulang sekolah, aku berniat untuk bertemu dengan Ares di kelasnya. Sekaligus memastikan perihal yang dibicarakan oleh Hermes beberapa waktu yang lalu. Sejujurnya perkataan Hermes membuatku curiga dan takut. Karena tidak ingin membiarkan perasaan itu berlarut-larut, akhirnya aku memberanikan diri untuk memastikannya.
Saat aku tiba di depan kelasnya, Ares sedang bermain gitar sendirian sambil menyanyikan lagu Gwyneth Herbert - Only Love Can Break Your Heart. Sebelum aku melangkah masuk ke dalam kelas Ares, aku melihat sesosok cewek bertubuh mungil menghampirinya. Dia memohon agar Ares memainkan sebuah lagu untukknya, dan dengan wajah tenang dia menurutinya. Seketika ada rasa cemburu yang terbesit di hatiku. Bagaimana tidak, bahkan dia tak pernah sekalipun menyanyikan lagu spesial untukku. Mungkin aku terlalu kegeeran menganggap aku adalah seseorang yang spesial di mata Ares. Namun, sekarang aku tau, aku hanya seperti cewek-cewek lainnya dimata Ares. Sama sekali tidak Istimewa.
Rasa cemburu itu mulai menyakitkan hatiku. Ingin rasanya aku pergi dari tempat itu, namun hatiku tergelitik untuk tetap diam dan menyaksikan tontonan yang ada dihadapanku sampai habis. Setelah satu lagu telah Ares mainkan, cewek mungil itu merangkul tangannya dan meminta dinyanyikan satu lagu lagi. Dengan wajah polosnya, Ares memainkan lagu untukknya. Namun saat Ares sedang bernyanyi, cewek mungil itu langsung mencium tepat di pipi Ares. Aku langsung tersentak kaget, aku yakin sekali cewek itu mengetahui keberadaanku di depan pintu kelas. Karena dia baru saja melewatiku. Berbeda dengan Ares yang duduk di jejeran belakang dan tidak melihat kehadiranku.
“Aku menyukaimu Ares, kamu mau jadi pacarku ?” ucap gadis mungil itu dengan senyuman manisnya. Dan Ares hanya menanggapinya dengan diam, sambil memegang pipi yang baru saja dicium oleh gadis mungil itu.
“Maaf aku tidak suka caramu. Kamu sama seperti cewek-cewek itu, mudah didapat dan mudah ditipu” jawabnya sinis, lalu melangkah pergi keluar kelas.
Aku begitu kaget melihat semua kejadian yang baru saja terjadi di hadapanku. Aku baru melihat sisi Ares yang seperti itu.
Saat mengetahui Ares mulai berjalan mendekatiku, aku pun mengambil langkah panjang untuk pergi dari tempat itu. Tapi ternyata Ares lebih cepat dariku, dia menarik pergelangan tanganku dan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kumengerti. Namun, aku tak mengerti apa yang ada di dalam otakku. Sepertinya otakku sudah kehilangan kendali atas koordinasi gerak otot dan tulangku. Aku malah mengikuti Ares yang menarikku, entah kemana.
***
“Aku tau kamu melihat semua kejadian tadi, dari awal” ucapnya tiba-tiba. Aku hanya diam menanggapinya.
“Dulu aku berpikir, bahwa jadian dengan perempuan-perempuan seperti itu hanya untuk bermain-main saja. Bagiku semua perempuan sama, mudah datang dan mudah pergi tergantung mood mereka. Mereka hanya menganggapku sebagai batu loncatan kepopuleran mereka. Mereka tidak pernah serius denganku, begitupun aku” ucapnya lagi dengan tatapan menerawang.
“Namun kamu berbeda dari mereka, Aphrodite. Kamu bersikap alami, dan tidak dibuat-buat. Sikap yang membuatku merasa nyaman setiap berada dekat denganmu. Aku seperti sudah mengenalmu sejak lama. Pertama kali bertemu denganmu, aku merasa bahwa pertemuan itu sudah direncanakan sejak lama oleh tuhan” ucapnya lagi sambil kini menatapku dengan tatapan hangat. Aku mendengarkan setiap kata yang diucapkan olehnya. Aku merasa tidak ada kebohongan dari setiap ucapannya. Aku mempercai Ares.
“Aku percaya padamu Ares, aku selalu percaya padamu” jawabku sambil tersenyum.
***
Bel pertanda pulang telah berbunyi, aku membereskan buku-bukuku kedalam tasku dan berjalan menuju parkiran sepedahku.
Aku melihat kerumunan murid-murid SMAN 25 disana. Aku merasa panik dan perasaanku mulai tidak enak. Aku berlari kenuju kerumunan itu dan menerobos melewatinya.
Ditengah-tengan kerumunan itu, aku melihat Ares tergeletak dengan kepala yang bersimbah darah. Aku kaget dan berlari menghampirinya. Air mataku pun refleks mengalir dari kedua kelopak matakku.
“Ares bangun Ares ! kamu kenapa ? bangun Ares, jangan seperti ini aku mohon” teriakku lirih.
Tiba-tiba aku lihat tangan Ares bergerak, dan menyentuh tanganku. Lalu perlahan-lahan matanya terbuka. Tangan yang satunya merogoh saku celananya.
Betapa kagetnya aku, ternyata dia memberikan sebuah cincin yang bertuliskan ‘Venus’ lalu melingkarkannya di jari manisku. Ternyata dia memakai cincin yang sama. Namun, yang dipakainya bertuliskan ‘Mars’.
Setelah itu dia bangun, lalu berlari melewati kerumunan. Setelah itu dia kembali lagi sambil membawa sepedahku yang sudah dihias dengan bunga-bunga tulip merah yang indah.
“Selamat Ulang Tahun Aphrodite !!!” teriak kerumunan yang dari tadi berdiri disekelilingku.
Aku sangat kaget, dan tangisku pun semakin pecah. Aku sangat tidak menyangka apa yang kulihat hanya kejutan dan tipuan. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku terlalu senang-- Aku terharu.
“Selamat ulang tahun Aphrodite. Aku menyayangimu, kamulah cinta sejati yang selama ini aku cari. Seperti Venus dan Mars. Maukah kamu jadi pacarku ?” ucapnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
“Terima ! Terima ! Terima !” teriak kerumunan teman-teman kami.
“Aku tidak bisa...” jawabku pelan. Aku lihat ekspresi teman-temanku berubah, khusunya Ares.
“Maksudnya kamu tidak bisa..” ucapnya pelan, namun langsung ku potong.
“Tidak bisa menolak maksudnya” jawabku sambil tertawa kecil. Ares dan teman-teman disekelilingku langsung tertawa keras mendengarnya.
“Aku memang tidak salah memilihmu” jawabnya dengan tawa lepas.
Setelah itu aku pun pulang dengan menggunakan sepedahku, yang dihiasi dengan bunga-bunga tulip yang indah. Tapi yang mengendarainya saat ini bukan aku, melainkan Ares  yang kini sudah resmi menjadi pacarku.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku akan menjagamu, aku janji !” ucapnya mantap.
“Iya aku percaya, Ares. Eu Te Amo” jawabku sambil tersenyum.
“I Love you too, hahaha” jawabnya antusias. Lalu, kami pun tertawa bersama dengan dedaunan yang berguguran diatas kepala kami.
Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...