Cerpen Mago "Pemberi Harapan Palsu"

Pemberi Harapan Palsu
  oleh: Devi Oktaviasari


            Aku telah satu jam bercermin, entahlah sebenarnya apa yang aku lakukan, aku hanya senyum kearah cermin, merapikan pakaian seragamku, dan berulang kali menyisir rambutku. Aku sudah siap pergi kesekolah.
Ketika sampai disekolah, aku menuju kelas, ketika ku masuk ada seorang cowok yang duduk di tempat dudukku sedang mengobrol dengan teman sekelasku Evin. Dan ternyata cowok itu adalah Aldi, teman seangkatan denganku, dan dia adalah cowok yang Aku suka.
“Eeeh Win udah datang, gue nungguin lo”
“Ada apa Di ?”
“Gue mau menanyakan tentang konsep Mading sekolah.”
“Oh, rajin banget. Mau nanyain yang mana?”
“Jadi gini, tema yang akan kita bawain buat Mading itu di cancel.”
“Loh kenapa?” Tanya aku, yang sambil berdiri sejak pertama datang kekelas.
“Coba deh sini, duduk dulu” dia menarik lenganku, dan duduk berada disampingnya.
“Ngga tahu gue juga, yang pasti Bu Nuni minta kita ganti tema.” Lanjut Aldi.
“Yaaah padahal gue udah siapin semua, kita tinggal kerja.”
Aku terkejut ketika kedua lengannya memegang pundakku, jantungku berdegup kencang, seperti mau lepas dari organ tubuhku. Mungkin pada saat itu wajahku terlihat merah padam, karena malu.
“Ya udah kita bikin lagi aja, nanti kita cari bareng bahan-bahannya. Pokoknya gue bantuin lo terus, sampai madding kita selesai.” Aldi tersenyum kepadaku.
“Oh iya, jadi pulang sekolah lo bisa kan?”
“Iyaaa, tapi gue ngga bawa netbook, lo bawa?”
“Iya gue bawa kok” jawabku.
Bel masuk pun berbunyi, anak-anak pada kembali ketempat duduknya.
“Eh Aldi, pagi-pagi udah mampir kekelas orang aja, udah masuk tuh, gue mau duduk.” Kata Virni, yang baru datang.
“Iya, Oke deh Win, gue kekelas dulu ya, nanti istirahat gue kesini lagi.”
“Iya Di.” Jawabku.
 Ketika dia berjalan dekat pintu, dia berhenti dan berbalik.
“Win”
“Iya ada apa Di?” aku berdiri dari temapt dudukku.
“Ngga jadi deh, ya udah gue kekelas yaaa” dia tersenyum kepadaku, dan aku membalas senyumannya.
“Heh, senyum-senyum sendiri aja” kata Virni, ketika dia merhatikanku dari tadi.
“Hehehe, pagi ini indah banget.”
“Biasa aja aaah, lebay lo”
Pelajaran pertama dan kedua serasa lama sekali, aku tidak sabar untuk bertemu dengan Aldi. Walaupun pertemuan ini hanya membahas mading sekolah, tapi aku senang karena bisa bersama Aldi terus.
Akhirnya istirahat juga, aku sudah menunggu Aldi kesini. Tetapi dia belum juga datang kekelas.
“Mau jajan ngga?” Tanya Virni.
“Males ke kantin nih, nitip boleh ngga?”
“Mau pesan apa?”
“Beli roti sama air mineral aja”
“Oke”
Ketika Virni berjalan menuju pintu, Aldi pun masuk membawa Air mineral dan 2 bungkus roti.
“Ngga usah Vir, gue udah beli buat Winndy” kata Aldi
“Oh oke deh.”
Aldi menghamipiri aku dan duduk disampingku, aku tersenyum kepadanya dan kembali menatap netbookku, yang sedang membrowsing dari internet tentang artikel remaja untuk madding nanti.
“Heh makan dulu, nih gue udah beliin roti, ayo itu nanti aja.”
“Iya sebentar ini nanggung”
“Ih susah kalau dibilangin, bentar lagi masuk nih. Udah makan dulu nih rotinya” Aldi menyodorkan roti didepan wajahku, aku mengambilnya lalu memakannya.
Thanks yaaa... nih gue udah dapat sebagian artikel buat madding nanti.”
“Iyaaaa, nanti gue juga cari sebagian dirumah. Jadi kapan kita ngerjain madingnya?” Tanya Aldi ketika dia merebut netbook nya dariku.
“Ihh sini belum selesai”
“Habisin dulu rotinya, biar sama gue aja.” Aku menggigit kembali rotinya, dengan gigitan yang besar, sehingga penuh dimulutku.
“Kita ngerjainnya be… uhuk uhuk” aku tersedak.
“Tuh kan, dikit-dikit makannya jadi tersedakkan, nih minum…” Aldi menyodorkan air mineral dan menepuk-nepuk punggungku.
“Iyaaa, maaf”
            Aku mengabiskan roti dengan tiga kali gigitan, tanpa berbicara. Setelah selesai makan aku meminum air mineral pemberian dari Aldi. Bel
“Yaaah, masuk. Yaudah nanti kita lanjutin yaaa.”
“Iya nih, ngeganggu aja yaa.”
“Hehehe, yaudah pulang sekolah aku tunggu digerbang yaaa, byeee”
“Oke, eh tunggu emang ada apa?” Aldi sudah menghilang dari kelasku.
Ketika pulang sekolah aku menunggunya di gerbang sekolah bersama Virni. Aldi menghampiriku dengan senyuman yang ramah.
“Sekarang kita lanjutin bikin buat maddingnya yaaa”
“Dimana?”
“Dirumah lo bisa?”
“Rumah gue? Oh boleh kok.”
“Tunggu yaaa, gue ngambil motor dulu.”
“iyaaa.”
“Eh Vir ngga apa-apa kan kalau gue pulang sama Aldi?”
“Ngga apa-apa kok, ya udah gue pulang duluan.”
Virni meninggalkanku, dan tak lama Aldi datang dengan motor ninjanya.
“Ayo naik” kata Aldi.
Setelah sampai rumah, aku menyimpan tas dan berganti pakaian, Aldi berada diruang tamu, untung saja hari ini ayah pulang malam, ibu sdan Denny sedang berada dirumah nenek.
“Maaf ya lama, minum dulu nih” aku menyodorkan segelas air dingin dan beberapa cemilan di toples.
“Makasih yaaa, kita langsung aja ngerjain ini.”
“Oke, mari kita bekerja”
Tak terasa sudah petang kami terlalu asik dengan tugas untuk membuat madding, tiba-tiba Aldi menatapku lekat-lekat, membuat aku salah tingkah.
“Vin…”
“Iya Di ada apa?”
“Gue suka sama lo.”
“Hah,,,, apa?” aku shock dengan perkataan Aldi.
Apa kah aku tidak salah dengar? Apakah yang diucapkan Aldi tadi nyata? kalimat yang gue tunggu selama ini, akhirnya keluar juga dari mulut Aldi. Aku menunggu pengulangan kalimat itu, hingga aku percaya bahwa itu benar-benar nyata.
“Eh, maksud gueee…. Udah lupain aja.”
“Eh, euh.. oh ya udah deh. Gue udah selesai nih, jadi besok tinggal di pasang dimadding” aku kecewa, kenapa Aldi tidak mengulanggi perkataan tadi.
“Gue juga, aduh ngga kerasa ya udah malam, oke deh gue pulang dulu yaaa”
“Oh oke deh.”
“See you tomorrow”
“Oke”
Aku kembali teringat dengan perkataan Aldi, kenapa dia tidak meneruskan omongannya, aku pasti terima dia jadi pacarku, kalau dia nembak. Setidaknya dia mengungkapkannya, berarti aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku naik keranjang tidur dan menarik selimutku, ketika aku mulai terlelap , ponselku berbunyi.
“Halloooo” jawabku dengan nada malas.
“Haloo Win,,, lo belum tidurkan?”
“Belum kok belum, ada apa Di?” dengan gerakan refleks aku terduduk dan bersandar.
“Aku mau nanya dong, kalau cewek suka sama bunga apa coklat?” Tanya Aldi.
“Maksudnya?” Tanyaku balik.
“Emmm maksudku, kalau lo di kasih bunga sama coklat lo milih apa?”
“Emmm kalau gue, suka keduanya”
“Ohh,,,, terus lo suka tipe cowok kaya gimana?”
“Hmmm gue suka cowok yang romantis, emang ada apa nanya kaya gitu?” tanyaku.
“Ngga apa-apa, yaudah deh, maaf ya ganggu malam-malam. Ya udah tidur sana, udah malem, takutnya besok kesiangan. Oke bye”
“Oh oke byeee.” Sambungan pun terputus, aku berpikir apakah Aldi akan menembakku? Dengan membawa sebuket bunga dan coklat, aku berharap pikiran tadi ku benar-benar terjadi esok hari.
Aku bangun begitu awal, mandi begitu lama, dan merias diri untuk tampil sesempurna mungkin, aku berharap akan ada kejadian yang tak pernah aku lupakan hari ini.
Aku berangkat sekolah dengan hati yang berbunga-bunga, aku tidak sabar untuk kejadian yang akan terjadi hari ini. aku mencari jawaban yang akan aku ucapkan nanti ke Aldi “aku juga sayang sama kamu, aku mau jadi pacar kamu” kataku dalam hati. Sesampai disekolah aku menunggu Aldi untuk datang kekelas.
“Pagi Win” sapa Nuning.
“Pagi Ning”
“Tumben pagi banget, biasanya juga kesiangan”
“Namanya juga manusia bisa berubah” aku mengelelkan lidahku ke Nuning.
“Oh iya hari ini Evi ngga masuk, dia sakit, nih suratnya” Nuning menyodorkan surat.
“Sakit apa?”
“Demam tinggi gitu deh” jawab Nuning.
“Oh oke, nanti aku tulis dibuku absen”
            Aku masih menunggu Aldi datang kekelas, tetapi dia belum juga datang. Sampai pulang sekolah aku tidak bertemu dengan Aldi, apa mungkin dia ngga masuk sekolah hari ini, tetapi ketika aku tanya ke teman sekelasnya dia masuk sekolah hari ini, ada apa ya dengan Aldi, aku berpikiran positif, mungkin dia sedang ada ulangan sehingga dia tidak sempat kekelas.
            Dan setelah tiga hari berlalu, Aldi tidak berkunjung lagi kekelasku, tidak pernah menghubungiku, pikiran ku mulai kemana-mana, apakah ada perilaku aku yang salah kepada dia? Membuatku kepikiran.
            Pelajaran pertama hari ini pelajaran Bahasa Indonesia.
“Hari ini siapa yang ngga masuk?”
“Evi bu” jawabku.
“Heh, dia udah masuk kali, ngga lihat apa dibelakang lo ada Evi” kata Virni.
“Ya maaf gue ngga tahu”
“Jangan ngelamun aja dong Win” kata Evi.
“Ngga ngelamun kok, cuman lagi ngga fokus aja” jawabku asal.
“Sama aja kali” sewot Virni.
            Bel berbunyi dua kali, tanda istirahat pertama. Hari ini perasaanku sedang buruk, dan aku malas keluar dari kelas. Aku menitip jajanan kepada virni.
“Win ngga jajan?”
“Ngga Vi, gue lagi males” jawabku.
“Nih gue bawa bekal dari rumah. Mau ngga?”
“Ngga, thanks gue lagi badmood nih. Rajin ya bawa makan.”
Aku mendengarkan mp3 dari handphoneku, ketika aku melirik pintu Aldi masuk kekelas membawa sebuket bunga dan dua batang coklat. Aku Shock dengan kedatangan Aldi. Dia tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya.
“Aldi?”
            Dia masuk kekelas dan diam didepan hadapanku, Aku tersipu malu. Hari ini aku bahagia sekali, ternyata harapanku mulai terwujud.
“teman-teman perhatiannya sebentar, ada yang ingin gue omongin nih”
            Anak-anak kembali ketempat duduk mereka, mereka saling menatap karena kebingungan, Aldi menatapku dan tersenyum lalu dia kembali menatap bunga dan coklatnya, dia sesekali menghembuskan nafas.
“Oke guys, disini gue mau ngasih tahu tentang perasaan gue keseseorang yang sangat special bagi gue, gue sayang sama dia.”
            Anak-anak saling berbisik-bisik, ada beberapa anak laki-laki yang mengejek pernyataanya Aldi. Sedangkan  anak perempuan iri dengan perilaku Aldi yang romatis.
“Bunga dan coklat ini akan gue persembahkan untuk orang special itu, orang itu menarik bagi gue. Gue sayang banget sama lo, Evin. Lo mau kan jadi pacar gue?”
            Apa? Apa aku tidak salah dengar, dia bilang Evin? Bukan Winndy?, apa dia salah menyebutkan nama?. Ngga mungkin, ternyata bukan nama aku yang disebut, tetapi teman sekelas yang duduk dibelakangku. Jadi senyum yang tadi Aldi berikan bukan buatku, tetapi buat Evin, bunga dan coklat yang dibawakan Aldi bukan untuk ku tetapi untuk Evin. Dan sekarang pertanyaan yang diberikan Aldi bukan untukku tetapi untuk Evin.
            Sekarang aku baru sadar, sebenarnya tempo lalu, ketika pagi-pagi Aldi datang kekelas bukan buat bertemu dengan ku tetapi untuk bertemu Evin, Aldi main kerumahku karena Aldi pengen tahu rumah Evin, Aldi tiga hari tidak mengunjungiku kekelas karena tidak ada Evin, dia sakit. Dan aku baru ingat, ketika dia dirumah ku dia bilang dia suka sama ku dia menyebut nama “Vin” bukan “Win”.
Jadi selama ini aku terlalu banyak berharap, terlalu percaya diri bahwa perasaanku juga tidak bertepuk sebelah tangan, dan semua ini salah. Aku serasa berada diruangan yang gelap, aku pergi dari kelas ketika keluar pintu aku bertemu Virni, aku memeluknya dan menangis.
Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...