Cerpen: Teringat Dulu


Teringat Dulu
oleh: Cynthia Anugrahaty (@ChintiaAH on Twitter)



Di dalam kamar tampak seorang anak perempuan yang bernama Indy tengah berbaring di kasurnya, dia sedang teringat oleh sesuatu! Sesuatu yang mebuat dia tersenyum dan bahkan menangis. YA… Kejadian 5tahun yang lalu ketika dia berumur 10 tahun, dimana saat itu Indy dan seorang anak laki-laki seusianya sedang bermain-main bebas tanpa beban. Dia ingin sekali mengulang masa-masa indah itu, dia ingin sosok itu kembali lagi padanya. Fathi...!! Ya, Indy ingin Fathi menemaninya lagi seperti ketika ia berusia 10tahun.

Indy meraih handphonenya. Dilihatnya ada satu message, tapi dia tidak memerdulikannya. Pikirannya terkuras penuh pada masa lalunya, Indy tersenyum. Dia tersenyum dalam tangisnya memikirkan masa lalunya terus terus dan terus, karena semua itu masih tampak tergambar jelas dalam otaknya.

***

“Indy kita main sepeda yuu!” ajak seorang anak laki-laki sambil mendorong-dorong sepedanya.

Indy berlari kecil menghampiri Fathi, nama anak lelaki itu. “Ayoo! Aku boncengin kamu lagi ya.”

“Boleh-boleh, tapi Indy nanti ajarin aku pake sepeda ya! Biar aku bisa.” Pinta Fathi sambil mengedip-ngedipkan matanya.

“Eum okedeh Fathi, kalau gitu setiap kamu pulang sekolah agama aja ya.” Jawab Indy dengan diiringi oleh senyum manisnya. Fathi sendiri menganggukan kepala sebagai tanda kalau dia menyetujuinya.

Fathi itu memang tidak bisa bermain sepeda, dia tidak lebih hebat dari Indy. Dan karena Indy sudah berjanji akan mengajari Fathi, maka sekarang setiap sore setelah Fathi pulang dari sekolah agamanya Indy selalu membantu Fathi agar bisa bermain sepeda, supaya mereka berdua bisa bermain bersama tanpa harus Indy membonceng Fathi lagi.

***

Indy masih ingat sekali dengan kejadian itu! Dia jadi tertawa sendiri mengingatnya, dia ingat saat Fathi jatuh dari sepedanya tapi Fathi tetap semangat dan terus berusaha hingga akhirnya Fathi bisa memakai sepeda. Saat itu, mereka jadi sering bermain sepeda tanpa harus ada yang dibonceng lagi.
Indy menatap atap langit kamarnya “Fathi aku mau kamu disini sekarang!” lirih Indy. Tiba-tiba Indy bangun dari lamunannya, rasanya dia ingin sekali pergi ke sebuah tempat, tempat dimana awal cerita itu dimulai dan tempat cerita itu juga berakhir.
Dia sampai di taman kecil itu, orang yang pertama kalinya mengetahui taman itu juga adalah Fathi tapi Fathi memberi tahu tempat itu hanya kepada Indy, disinilah semua kenangan indah itu berada dan dimulai.
Indy duduk dibawah pohon yang besar dia kembali hanyut lagi dalam masa lalunya. Sekarang dia ingat akan janjinya dengan Fathi bahwa mereka akan berteman sampai tua sampai Tuhan mengambil mereka lagi, di tempat ini tepat di bawah pohon ini!

***

“Sini deh Indy aku mau liatin kamu sesuatu. Ayo, ikut aku!” Fathi menarik tangan Indy yang sedang memegang sepedanya.

“Kita mau kemana, Fat? Jangan jauh-jauh ya nanti dicariin mama!”
“Iyaaa... ini nih tempatnya.” Fathi menunjukan sebuah tempat.
“Ayoo Indy sini! Kita janji ditempat ini.”

Indy sendiri masih terdiam melihat keindahan tempat ini “menarik” gumamnya.
Lalu Fathi mengeluarkan sebuah silet dari sakunya.

“Untuk apa itu Fathi?” Tanya Indy heran.
“Udah lihat aja ya Indy, sini telapak tangan kamu!”

Indy pun menyodorkan telapak tangannya. “Eh tapi aku takut darah Fathi, pasti sakit! terus gimana kalau darah di telapak tangan aku engga mau berhenti?” tutur Indy polos.

“Yaudah aku yang coba duluan aja ya, bukti kalau ini engga sakit.” Fathi menyilet sedikit telapak tangannya dia mencoba menahan rasa perihnya, darah segarpun mengalir dari telapak tangannya, sekarang giliran Indy. 

Awalnya Indy tidak mau tapi setelah melihat Fathi tadi akhirnya Indy mau melukai telapak tangannya. Walaupun tadi Indy sempat meringis kesakitan saat Fathi menyilet telapak tangan Indy.

“Nah…sekarang satuin telapak tangan kita Indy” perintah Fathi, Indy menuruti ajakan Fathi, karena Indy percaya sahabat kecilnya itu tidak akan melukai dirinya. ”Indy janji ya kita berdua bakal temenan terus sampai tua! Sampai kita dipanggil sama Allah!”

Darah mereka sekarang telah menyatu, karena mereka masih kecil mereka tidak mengetahui resiko dari pencampuran darah yang berbeda golongan.

“Iya Fathi pokonya ya nanti jangan sombong kalau udah gede, janji ya Fathi kita temenan terus!” Indy mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Fathi .
“JANJI.” Sorak mereka berdua.

***

Ditaman itu telah banyak cerita yang mereka buat, setiap harinya mereka selalu bermain bersama, bermain semua permainan anak kecil dulu. Mereka sangat senang sekali. Namun sayang semua kesenangan itu kandas begitu saja ketika hal buruk menimpa Fathi.

***

“Indy kita maen yu! Aku punya mainan baru.” Ajak Fathi bangga.
Indy membuka pintunya “kamu duluan aja ya Fathi! Aku disuruh makan terus ngerjain PR dulu sama mama.”

“Oh gitu ya, yaudah deh tapi kesana ya! Nanti kita main.”
Indy mengangguk lalu masuk lagi kedalam rumahnya dan Fathi segera pergi ke taman.

Dirumah Indy sendiri merasa tidak enak hati ingin rasanya dia cepat-cepat pergi ke taman. Dia memang sangat ingin melihat mainan baru itu, tetapi selain itu entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya benar-benar tidak tenang.

Setelah beberapa jam, akhirnya Indy sudah selesai mengerjakan PRnya dia lalu pamit ke ibunya untuk pergi ke taman.

Sampai ditaman, Indy tidak melihat Fathi tapi dia malah merasa ada sesuatu yang aneh ditaman ini. Akar yang biasa ada dipohon besar itu terjatuh kearah batu yang besar dan Indy juga melihat banyak darah disekitar batu besar itu. Indy merasa ketakutan, dia berlari terus mencari Fathi tapi sayang dia tidak menemukan Fathi. Karena hari sudah sore Indy memutuskan untuk pulang kerumah.

Ketika sampai rumah, Indy melihat ibunya sedang berdiri didepan pintu.
“Indy sayang darimana?” Tanya ibunya khawatir.

Indy memeluk ibunya “Indy habis nyari Fathi mah di taman, tapi Fathinya engga ada. Hiks –“

Ibu Indy melepas pelukan anaknya “yasudah ayo ikut mama, kita pergi kerumah Fathi sekarang.”

Indy mengikuti ibunya, dia tidak tahu bahwa Fathi sudah ada dirumah bahkan mungkin sekarang Fathi sedang ditangisi banyak orang. Sampai dirumah Fathi, Indy terlihat kebingungan dia melihat ada bendera kuning yang dipasang didepan rumah, Fathi dan banyak orang yang berdatangan.

“Mah, Fathi dimana?”

Ibu Indy diam, dia tidak siap untuk mengatakan bahwa ternyata ketika sedang menunggu Indy, Fathi memutuskan untuk bermain sendiri dulu di taman dia mengikuti cara tarzan bergelantungan. Namun sayang karena nasib baik tidak berpihak padanya, Fathi pun terjatuh dia tidak kuat memegangi akar pohon itu sehingga Fathi terjatuh dan kepalanya terbentur batu yang besar sangat keras.

Indy menemui ibu Fathi yang sedang menangis meratapi anaknya. “Tante, Fathi mana?”

“itu sayang.” Ibu Fathi menunjuk kearah orang yang sedang berbaring dengan dibalut kain kafan.

Mulanya Indy tidak mengerti, tapi dia mulai sadar bahwa itu FATHI. Tidak butuh waktu lama air matanya langsung keluar, dia sempat berfikir itu pasti mimpi, tapi bukan! Ini benar, ini nyata! Dia berlari keluar dari rumah Fathi sambil menangis, dia terus berlari hingga tanpa dia sadari ternyata langkah kakinya membawa dia ke taman.

“Ini pasti bohong! Tadikan Fathi bilang dia punya mainan baru, pasti ini mainan baru Fathi! Iyakan Fathi!” Indy berteriak dengan sangat kencang ditaman, dia duduk dibawah pohon besar itu menekuk lututnya, memeluk erat lututnya, tiba-tiba ada seseorang yang ikut duduk bersama Indy.

“Indy, Fathi pergi karena dipanggil tuhan. Tenang dan sabar ya sayang! Dia tetap akan terus menjaga Indy. Indy jangan takut! Fathi selalu ada disampingmu untuk jadi teman Indy.” Ibu Indy mencoba menghibur anaknya. “Nih mama bawa gambaran dari Fathi.” Ibu Indy memperlihatkan kertas itu.

Indy mengambil gambar itu, di kertas itu tergambar wajah Indy dan Fathi juga kedua orangtua mereka yang sedang berada dibawah pohon besar ditaman itu.

Indy senang melihat gambar itu, dia tersenyum kecil

***

Indy terbangun dari ingatan masa lalunya. Dengan tetesan air mata yang masih menetes terkena mukanya dia tersenyum miris sekarang, Indy tahu itu mustahil untuk Fathi bisa kembali lagi.

“Fathi coba dulu itu aku langsung ikut kamu, pasti yang bakal jatuh kita berdua.” Sesal Indy. “Fat, aku belum terlalu bisa relain kamu pergi, selama ini aku masih ingat kamu! Kita tetap jadi sahabat ya walaupun kita berbeda tempat, kamu disurga dan aku didunia.”

“Aku rasa aku siap untuk berlalu. Aku tak menyatakan aku akan melupakanmu, aku hanya berlalu. Kamu dan semua kenangan dulu itu terlalu berharga untuk dilupakan. Jadi now I’m moving on. Toh aku yakin Fathi, Tuhan akan mengirimkan aku seseorang! Dia yang akan menyayangiku dengan tulus seperti aku menyayangimu sebagai teman. JUST WAIT !“ lirihnya dalam hati.




Sumber gambar: loverituals.tumblr.com
Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...