Artikel Opini: Tidak Ada yang Salah dengan Kasih Sayang, Cinta, dan Coklat


Tidak Ada yang Salah Dengan Kasih 
Sayang, Cinta, dan Coklat

Artikel Opini oleh Albizia Akbar (@Albizia13 on Twitter)




Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang adalah perayaan yang berasal dari dataran Eropa yang diperingati setiap tanggal 14 Pebruari. Peringatan ini merunut pada kejadian di abad ke-3 Masehi ketika seorang pendeta Nasrani bernama Valentinus yang dihukum mati karena menikah dengan seseorang yang ia cintai. Valentinus melanggar peraturan pada masa itu yang melarang prajurit negara untuk menikah. Dari kejadian tersebut, hari Valentine kemudian diperingati dengan memberikan hadiah sebagai tanda kasih sayang kepada pasangan. Pada masa modern, Valentine’s Day kemudian diperingati bahkan menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke negara dunia ketiga seperti Indonesia.

Perayaan Valentine’s Day di Indonesia banyak menuai kontroversi. Ada pihak yang pro sementara banyak pula yang kontra. Mereka yang pro beranggapan bahwa Valentine’s Day adalah adalah hari kasih sayang yang sudah umum diperingati, maka merekapun turut memperingatinya dengan cara mereka sendiri. Hal ini mungkin sebagai dampak alih budaya yang turut serta dalam era globalisasi seperti saat ini. Meski perayaan Valentine’s Day di Indonesia mungkin tidak sebesar seperti di negara lain, remaja di Indonesia merayakan Valentine’s Day dengan saling memberi hadiah berupa coklat atau bunga, khususnya bagi mereka yang memiliki pasangan.

Mereka yang kontra beranggapan bahwa tidak sepatutnya Valentine’s Day dirayakan. Ada beragam alasan yang dilontarkan, dari mulai alasan paling klise yang menyatakan hari kasih sayang tidak hanya di hari Valentine, sampai alasan kontra yang lebih mirip kepada sikap skeptis karena dirinya tidak memiliki seseorang untuk berbagi di Hari Valentine.

Sikap kontra terhadap Valentine’s Day menjadi serius karena beberapa alasan tersebut menyangkut aspek religius. Contohnya adalah anggapan kaum Muslim yang menyatakan bahwa Valentine’s Day adalah perayaan kaum agama lain yang bertentangan dengan ajaran Islam. Selain itu, bahkan beberapa organisasi keagamaan melarang dan menyatakan haram terhadap perayaan Valentine’s Day. Mereka beranggapan Valentine’s Day dapat menyebabkan perilaku zina yang dilarang oleh agama. Hal ini didasari oleh penelitian yang menyatakan pada Valentine’s Day terjadi peningkatan penjualan alat kontrasepsi hingga 88%.

Tentu saja orang-orang -- termasuk saya -- berhak memiliki pandangannya sendiri terhadap Valentine’s Day, itu bergantung dari sisi mana mereka menilai Valentine’s Day. Saya sendiri lebih suka memandang sesuatu dengan melihat esensi hal tersebut daripada memandangnya kemudian menghakiminya hanya dari bentuk, kemasan ataupun opini orang lain terhadap suatu hal.

Sebagai seorang muslim dan tidak memiliki pasangan, saya tidak memiliki alasan untuk merayakan Valentine’s Day. Tapi bagi saya, Valentine’s Day bukanlah sebuah hal yang harus dipermasalahkan.

Pada hakikatnya, Valentine’s Day adalah peringatan tentang bagaimana seseorang yang melawan otoritas yang melarangnya untuk menjalankan sesuatu yang sebenarnya adalah hak seluruh manusia: mencintai seseorang. Dari hal tersebut diambil nilai-nilai kasih sayang yang dianggap tidak boleh hilang. Jika demikian, lantas apa yang salah dengan hal itu? Bagaimanapun kasih sayang dan cinta jauh lebih baik daripada konflik dan peperangan. Bahwa Santo Valentinus adalah seorang nasrani bukanlah pula sebuah masalah. Saya meyakini bahwa semua agama pada dasarnya mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi alih-alih berkonflik. Menurut saya, cinta dan kasih sayang adalah naluri alamiah yang dianugerahkan oleh Tuhan, siapapun Tuhan yang kita yakini.

Meski tidak merayakannya secara eksplisit, saya memandang Valentine’s Day memiliki arti tersendiri. Saya memandang Valentine’s Day sebagai hari dimana kita harus lebih peduli pada apapun dan siapapun. Valentine’s Day dapat dijadikan hari dimana kita memperlakukan pasangan, orang tua, sahabat dan siapapun dengan lebih baik. Tidak hanya itu, di Valentine’s Day kita juga dapat belajar lebih mencintai apa yang kita lakukan.

Dengan mencintai apa yang kita lakukan, itu tidak hanya berefek baik bagi diri kita, namun juga bagi orang lain. Contohnya begini, sebagai seorang pelajar maka di Valentine’s Day saya akan lebih mencintai subjek pelajaran yang saya pelajari, sehingga saya belajar dengan lebih giat. Jika saya belajar lebih giat, maka prestasi akan diraih dan raihan prestasi tersebut akan membanggakan bagi orang tua. Hubungan sebab akibat yang berawal dari mencintai hal yang dilakukan tersebut akan terus berlanjut dan dapat pula berlaku untuk hal lainnya.

Sebelum menghakimi saya sebagai seorang cowok kemayu yang membela Valentine’s Day, saya juga memiliki opini lain tentang itu. Valentine’s Day bisa menjadi sesuatu yang negatif tergantung kepada bagaimana kita menjalaninya. Valentine’s Day adalah omong kosong besar jika ia diperingati dengan sikap arogan dan membuang-buang uang dengan perayaan-perayaan yang tidak bermanfaat. Apalagi jika Valentine’s Day dijadikan sebuah alasan untuk membolehkan tindakan amoral seperti melakukan hubungan intim dengan seseorang yang ilegal jika melakukan bersamanya. Jika itu dilakukan, maka Valentine’s Day adalah sesuatu yang tidak memiliki manfaat, hanya membuang-buang waktu dan juga hanya mendatangkan kerugian.

Sampai di sini saya menarik kesimpulan, penilaian baik buruknya perayaan Valentine’s Day bergantung kepada bagaimana kita memandang hal tersebut. Begitu juga efeknya, bergantung bagaimana kita menjalaninya. Hal ini enggak hanya berlaku bagi Valentine’s Day, tetapi juga hari-hari perayaan lainnya. Jika kita melakukan hal baik, tentu akan bermanfaat. Sebaliknya, jika hal buruk kita lakukan tentu saja hanya kerugian yang akan didapatkan. Sesimpel seperti itu.

Tulisan ini belum tentu benar, jelas karena ini hanya opini saya. Setuju atau tidaknya, tergantung dari sisi mana anda melihatnya. Jika tidak setuju, silakan mendebatnya dengan membuat tulisan serupa. Namun yang patut diketahui, tidak ada yang buruk dari cinta, kasih sayang dan dua batang coklat pemberian sahabat di Hari Kasih Sayang. Hidup coklat!

***

Penulis adalah siswa SMAN 1 Purwakarta. 
Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...