Cerpen: Balas Budi


Balas Budi
oleh: Rahma Deatami, X.3 (@deatamidea)




Tidak ada yang lebih nikmat daripada menikmati secangkir capuccino hangat disaat hujan deras seperti ini. Hawa dingin yang menerpa diimbangi oleh hangatnya capuccino. Ya, itulah yang sekarang dirasakan oleh seorang remaja tampan yang saat ini sedang duduk di salah satu bangku kantin sekolah.

Dari arah timur, terlihat seorang gadis tengah berjalan mendekati kantin, lebih tepatnya menghampiri si remaja tampan. “Hey!” sapanya sembari menepuk bahu si remaja tampan. “Disini kau rupanya.” lanjutnya. Dengan malas, si remaja tampan melirik sekilas ke arah si gadis, berusaha menyampaikan bahwa ia sedang marah saat ini, kemudian ia kembali menyeruput capuccino hangatnya.

“Hey! Ada apa denganmu? Kau sakit ya?” tanya si gadis sembari menyentuhkan telapak tangan kanannya pada dahi si remaja tampan, namun tangan si gadis segera ditepis oleh si remaja tampan. “Kau ini kenapa? Kau marah padaku? Memangnya apa yang salah denganku?” tanya si gadis dengan wajah bingung.

Si remaja tampan meneguk capuccinonya sebelum kemudian berkata “Apa salahmu? Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh? Apa kau tidak menyadari dosamu? Kau sudah mempermalukanku!” dengan nada membentak. Perasaan tenang yang tadi ia rasakan bersama secangkir capuccino hangat kini telah menghilang, tergantikan oleh amarah yang memuncak pada gadis di hadapannya. Hal itu membuat si gadis terdiam dengan wajah yang ketakutan. Sesekali ia meneguk ludahnya sendiri, berharap rasa takutnya akan berkurang dengan itu.

Si remaja tampan berdiri kemudian mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dari saku celananya. Kertas itu kemudian ia banting di atas meja. “Untuk apa kau membuat surat menjijikan seperti itu dengan mencantumkan namaku?” tanyanya dengan nada yang menurun, namun masih dengan emosi yang sama.

“Aku... a...aku ini sedang membantumu, Alvin.” ucap si gadis dengan kepala yang tertunduk dalam.

“Membantuku? Membantu apa, Sivia?” tanya si remaja tampan yang ternya ta bernama Alvin dengan nada yang mulai lembut. Diangkatnya dagu si gadis yang ternyata bernama Sivia itu hingga wajah mereka saling berhadapan.

“Maaf” ucap Sivia lirih.

“Hhh... Iya, aku memaafkanmu. Sekarang, jelaskan padaku, apa maksudmu membuat surat seperti ini?” pinta Alvin pelan sembari menunjukkan kertas tadi.

Sivia mendudukan dirinya di bangku, diikuti dengan Alvin yang juga duduk dan mempersiapkan telinganya untuk mendengar semua penjelasan Sivia.

“Aku hanya ingin balas budi.”. Sivia menarik napas panjang, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Selama ini kau selalu membantuku. Aku juga ingin membantumu. Karena itulah, aku membuat surat cinta ini.”

“Tapi sejak kapan, dan darimana kau tahu bahwa aku menyukai Ify?”

“Memangnya kau tidak menyukai Ify?” tanya Sivia yang dijawab dengan gelengan oleh Alvin. Gelengan itu membuat Sivia mengernyit, kemudian bertanya “Alvin, apakah kau masih normal?”. Pertanyaan itu spontan disambut oleh Alvin dengan tatapan ingin membunuh.

“Emm... maaf, maaf. Maksudku begini, Ify itu kan, siswi paling cantik di sekolah ini, yang benar saja kau tidak menyukainya.”

“Memangnya kenapa kalau tidak menyukai Ify?”

“Yaa... tidak apa-apa. Hanya aneh saja.”

Alvin tersenyum sekilas, kemudian berkata “Ya itulah aku. Aneh. Terlalu lama berteman denganmu ya jadinya begini.”

“Jadi kau tidak mau berteman denganku lagi?” tanya Sivia berlagak merajuk, yang dijawab oleh gelengan kepala Alvin. “Hah?” ucap Sivia spontan. “Kau pasti bercanda.”

“Aku serius.”

“Ayolah Alvin, jangan marah. Ini kan hanya masalah kecil.”

“Siapa yang marah?”

“Lalu?”

“Aku tidak mau menjadi temanmu lagi, karena...”. Alvin berdehem kemudian berbisik di telinga Sivia “Aku mau menjadi pacarmu.”. Spontan mata Sivia langsung terbelalak. Bisikkan itu benar-benar membuatnya terkejut, namun tak bisa dipungkiri, ada rasa bahagia yang sulit sekali diutarakan yang menyertai keterkejutannya itu.

“Bagaimana, Sivia? Aku sudah menawarkan cara balas budi paling mudah, bukan? Jadi apa jawabanmu?” tanya Alvin. Tatapan penuh arti yang terpancar dari mata elangnya, ia lemparkan untuk Sivia. Membuat pipi Sivia memanas. Tak ingin Alvin menyadari hal itu, Sivia segera menghindari wajahnya dari tatapan Alvin. Namun Alvin terlalu tangkas. Dengan sigap, tangannya menahan wajah Sivia.

“Aku anggap, ekspresi wajahmu yang lucu ini sebagai jawaban ‘ya’.” ucap Alvin seenaknya, ditambah dengan cubitan gemas yang ia lakukan pada hidung Sivia.
Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...