Cerpen: Jembatan Masa Silam

Jembatan Masa Silam
oleh: Syifa Ahliya


            Aroma hujan tadi pagi ternyata masih saja berbekas. Meninggalkan sebulir kenangan yang tak bisa ditebas. Hm…sejuk. Udara Kota Bandung pagi ini betul-betul menyegarkan. Bukan hanya untuk penciuman. Tapi, ternyata untuk jiwa yang hampa ini. Aku bersyukur tadi pagi hujan kembali mencumbui bumi. Yah…walaupun hanya sekitar setengah jam. Tapi, itu sudah cukup bagiku. Cukup untuk menghadirkan sebuah kebahagiaan sederhana. Melupakan sejenak kenangan pahit yang setiap hari selalu berkelebatan tak menentu. Dan…begitulah aku. Banyak orang yang sering mengira aku tidak waras. Karena, aku lebih menyukai kesendirian.  Aku sudah tak percaya siapapun lagi untuk dijadikan teman berbagi. Meskipun kesendirian, membuat kenangan pahit itu semakin nyata menggumpal dipikiran. Selama ini, aku mencoba bertahan di dalam jurang kehilangan yang sudah memenjarakanku bertahun-tahun.
            Aku adalah seorang mahasiswi jurusan sastra Inggris UNPAD semester 4. Pagi ini, aku sedang mengerjakan tugas – yang belum sempat aku selesaikan - di taman kampus. Suasana masih sepi. Karena, aku mungkin datang terlalu pagi. Tapi, tak apalah. Bukankah seperti ini yang aku sukai? Suasana yang sepi. Ada untungnya juga sih. Karena otakku bisa berpikir berkali-kali lipat lebih baik daripada biasanya.
            “Sher?” aku merasakan sebuah tangan kokoh menepuk pundakku, lantas akupun menoleh dan tersenyum kecil. “Rajin amat pagi-pagi udah ada di sini?” katanya lagi, ramah. Seperti sebelumnya, aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman kecil. Dia lalu beranjak duduk di sebelahku. Di bangku panjang taman, di samping air mancur. “Nanti malam, ada acara?” aku menoleh padanya dengan tatapan bertanya. “Jalan yuk?” . “Sama siapa?” jawabku yang mulai tertarik. “Sama gue…” . “Hm, boleh deh.” Kataku menyetujui. Tapi, sepertinya dia belum selesai berbicara. “dan, starlet.”
            Aku mencelos. Melihat perubahan ekspresi pada diriku, ia menggigit bibirnya. Tiba-tiba, keasingan menyusup diantara kami. Sehingga suasana yang tadinya santai menjadi begitu beku. “eh, mmm….kayaknya aku mau ngerjain tugas aja deh.” Dia, kelihatannya sudah tahu apa yang akan aku katakan. Ia menghembuskan nafas pelan, tapi terkesan lirih. “Sampai ka…” . “eh, kak, aku duluan ya. Maaf, lagi buru-buru nih, bye.” Kataku langsung memotong pembicaraannya. Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Tidak. Aku sedang tidak ingin membuang-buang waktu bahkan hanya untuk sekedar melongok putaran film dari masa laluku. Tidak, untuk sekarang.
*
            Sepulang dari kampus, aku berjalan dengan tergesa. Dosen tadi benar-benar menyebalkan. Kegemarannya memberikan tugas yang banyaknya tak terhitung. Punggungku letih sekali. Apalagi mataku yang sudah minus 2,5 ini. Belakangan ini, ia meronta-ronta minta diistirahatkan. Mungkin karena dipaksa untuk membaca buku-buku yang tebalnya minta ampun. Pikiranku hanya tertuju pada kos-an. Aku ingin tidur barang sebentar. Sebelum harus berpacu lagi dengan waktu untuk mengerjakan tugas yang semakin hari semakin tak manusiawi.
            Tapi, langkahku terhenti. Ketika melihat empat orang tengah berdiskusi di depan gerbang kampusku. Ah, mungkin kakak/adik kelas atau mahasiswa dari jurusan lain yang sedang ingin bersua dengan temannya di jurusan sastra inggris UNPAD ini. Atau mungkin….tunggu dulu! Mereka nampak familiar bagiku. Bukan mereka sih, tepatnya perempuan itu. (empat orang yang sedang berkumpul itu membentuk sebuah lingkaran kecil. Tiga orang lelaki memunggungiku. Tapi, satu orang perempuan berdiri berlawanan dengan tempat aku berdiri. Walaupun, dia terhalang oleh badan ketiga orang temannya, tapi aku masih bisa melihatnya disela-sela punggung teman-temannya). Aku berjalan semakin mendekat. Dan menyipitkan mata. Mencoba menerka.
            Ketika sedang melangkah, mendekati kerumunan yang sedang berbincang serius itu, sebuah angin berhembus merdu, menyejukkan. Membuat jilbabku berkibar karenanya. Mungkin, dia hanya sekedar lewat untuk menorehkan harmonisasi yang indah, menghibur para penghuni bumi yang tengah bermuram. Atau mungkin, ada rencana lain dibalik kedatangannya. Membantu seorang anak manusia yang tengah berkutat dengan teka-tekinya, misalnya.
            Ya, karena hembusan angin tersebut –yang mengibarkan jilbabku-, berkibar pula rambut hitam milik seorang perempuan yang sedang aku amati diam-diam itu. Sehingga, aku bisa melihat dengan jelas rupa asli dari perempuan yang lagi-lagi masih berbincang dengan serius bersama ketiga orang teman lelakinya. Aku tersentak. Jantungku berdegup kecil. Aku mengalihkan perhatianku kepada ketiga lelaki yang berada dihadapan perempuan itu. Lelaki pertama, ah..kemana saja aku? Mengapa baru menyadarinya sekarang? Aku kenal betul dengan lelaki itu. Karena dia kakak kelasku, dijurusan yang sama. Iya, dia, yang mengajakku berbincang tadi pagi (Jantungku berdegup dua kali lipat lebih cepat). Perasaanku semakin yakin, saat aku melihat sosok lelaki kedua –yang juga tengah memunggungiku-. Dia memegang pulpen ditangan kirinya, mengacung-acungkan pulpen itu, seperti sedang menjelaskan sesuatu. Punggungnya sedikit melengkung. Rambutnya bergaya harajuku. Ia lebih tinggi dari dua orang lelaki yang mengapitnya. Tak salah lagi! Aku juga mengenalinya. Hanya dia, satu-satunya temanku yang kidal. Dan, aku tahu betul cara berdirinya. Dia juga mahasiswa UNPAD, hanya saja jurusan dia berbeda denganku dan lelaki pertama tadi. (Kali ini, degupan jantungku semakin menggila.).
            Dan….aku sudah bisa menebak siapa lelaki ketiga itu –bahkan sebelum aku mengamatinya-. Tapi, aku tetap memperhatikan sosok lelaki tersebut. Dibandingkan dengan dua orang temannya yang tinggi dan gagah, dia terkesan lebih ‘kecil’. Walaupun, tingginya hampir sama dengan dua orang lelaki sebelumnya. Potongan rambutnya, lebih rapi daripada dua orang temannya yang lebih senang membiarkan rambutnya dibuat sedikit gondrong. Cara berpakaiannya, menunjukkan bahwa dia orang yang sederhana. Tapi, walau begitu, ternyata….dialah. Karena dia, frekuensi debaran jantungku semakin menjadi-jadi. Bahkan, rasanya ingin meledak. Sehingga, saking kerasnya aku mencoba menahan deburan jantung yang terus menerjang seperti ombak, membuat air mataku terjatuh. Hingga ia tak bisa berhenti mengalir. Perasaan ini, ternyata belum berubah. Masih tetap sama. Bahkan, aku mendapati pipiku memanas saat melihat sosok ketiga itu membalikkan badannya. Ia berdiri disamping perempuan pertama tadi. Tak lagi memunggungiku.
            Tapi, aku tak pernah tahu dan bisa mendeteksi, bahkan tentang perasaanku sendiri. Manakah yang lebih mendominasi? Rasa bahagia, ataukah rasa sakit yang dulu -dan sekarang merayap lagi. Menjalari sekujur tubuhku. Perlahan, tapi pasti-?
            Sudah Sherly, sudah! Kamu tidak boleh seperti ini! Semua kenangan itu, lebih baik dilupakan saja! Bukankah kamu sudah bertekad keras untuk melupakan? Lalu, mengapa hanya dengan melihat sosoknya kamu menjadi seseorang yang begitu lemah?
            Aku benar-benar bersyukur, karena lelaki ketiga itu, berbeda kampus denganku. Dia bukan mahasiswa UNPAD. Tapi, ITB sama seperti perempuan yang berdiri di sebelahnya. Walaupun aku baru menyadarinya. Bahwa aku……sedikit merindukannya. Hanya sedikit.
*
            Aku memberanikan diri melewati mereka. ‘Ini semua mudah. Kamu tinggal berjalan dengan tidak melihat mereka. Pura-pura membaca buku, atau bermain handphone mungkin. Iya, pasti mudah! Karena kelihatannya, mereka sedang sangat serius. Sehingga, tidak memperhatikan kondisi sekelilingnya.’ Kataku menyemangati diriku.
            Sudah satu jam aku menunggu di balik pohon, sambil mengamati mereka. Tapi,mereka tak kunjung pergi. Aku tak tahu, berapa lama lagi mereka akan berdiri di sana. Apa yang sedang mereka rencanakan? Apakah mereka sedang merencanakan sesuatu agar aku mau bertemu dengan mereka?
            Tidak. walaupun aku merindukan mereka, tapi, aku tak bisa meruntuhkan benteng yang sudah aku bangun selama 3 tahun terakhir. Aku sudah berusaha menghindari mereka sejak 3 tahun lalu. Walaupun sesekali, pertahananku diganggu oleh Zaky. Karena aku tak pernah bisa menghindarinya. Kami berada dalam jurusan yang sama. Dalam kampus yang sama. Sehingga memungkinkan bagi kami untuk bersua setiap harinya. Tapi, Zaky saja bukan masalah bagiku. Karena dia, selalu bisa mengerti bagaimana aku dan perasaanku. Dia tak pernah membahas tentang kejadian mengerikan yang tak pernah ingin aku ungkit –walaupun peristiwa itu, selalu membayang dan menimbulkan kepekatan nyata dibalik kesunyianku- lagi.     
            Tapi, aku ngantuk sekali. Akhirnya, aku putuskan untuk pulang ke kos-an. Tepatnya, untuk melewati mereka terlebih dahulu. Aku berjalan perlahan, sambil membaca buku yang aku tarik asal dari tasku karena terburu-buru. Sedikit lagi, aku mencapai gerbang. Dan akan melewati mereka. Ya, sesuai dengan dugaanku, mereka sama sekali tidak terusik dengan keberadaanku. Mereka masih sibuk berbincang. Jantungku berdetak semakin cepat, saat melewati mereka. Hanya sedikit lagi, Sher! Berjuanglah! Tapi…
            Tali sepatuku lepas. Aku berjongkok. Berniat untuk mengikat tali sepatu (sambil sesekali mencuri dengar). Tapi, posisiku ini terbilang tidak aman. Aku berdiri di sisi berlawanan dengan sisi di mana keempat orang itu tengah berkumpul. Aku tak punya pilihan lain. Aku hanya berharap, mereka tak akan mengetahui keberadaanku. “…kan gue udah bilang, lo tau sendiri dia keras kepalanya kayak apa.” . “Tapi, kita harus klarifikasiin semua masalah ini sampai tuntas. Sampe kapan kita kayak gini terus?”. “Semua ini salah gue, andai aja…” . “SHERLY?”
            Ketika diam-diam mendengarkan diskusi kecil –yang nampak menegangkan- dari keempat orang itu, tubuhku terlonjak mendengar seseorang menyerukan namaku. Aku hanya berharap pendengaranku sedang bermasalah. Tapi, harapanku pupus seketika. Dalam posisiku yang masih berjongkok, aku melihat dari sudut mataku. Seseorang diantara keempat orang itu berjalan kearahku. Dan berhenti tepat di depanku. Aku terus menunduk, semakin dalam            “Sampai kapan, elo mau menghindar terus?” suara itu berbisik, lirih. Aku mengenali suara itu dan cara bicaranya –walau sudah tiga tahun tak bertemu-. Itu suara Okta. Satu-satunya perempuan yang berkumpul dengan ketiga lelaki tadi. “Kenapa,” ia menyamakan posisinya denganku. Ikut berjongkok. Menghadapku. Mengangkat daguku secara paksa. Membuatku harus –dengan enggan- melihat tepat dikedua bola matanya, yang tak seindah dulu. Lingkaran hitam memfigurai kelopak matanya. Mungkin karena lelah. “Kenapa elo jadi seperti ini? Gue..” tiga orang lelaki yang tadinya hanya menonton dari jauh, memutuskan untuk mendekat. Membuatku semakin gugup. “Gue dan starlet kangen banget sama lo, Sher.” Ucapnya pelan. Bahkan terdengar begitu sendu. Aku juga. Aku juga kangen sama kalian. Tapi, aku terlalu takut.
            Aku memberanikan diri membuka suara, “Tapi, aku lebih kangen Anggun.”. Semuanya terdiam mendengar ucapanku. Sebuah tangan terjulur kearahku (mungkin berniat membantuku berdiri). Aku mendongak kearahnya. Dan terkesiap. Dia, memang terlalu baik. Atau bahkan tak punya malu? Setelah apa yang ia perbuat dimasa silam? “Aku bisa bangun sendiri.” Kataku dingin. Lalu bangkit. Diikuti Okta.
            “Sher, ada banyak hal yang harus kamu tahu.” Ujar si pemilik tangan terjulur itu. Aku memberanikan diri menatapnya, tajam. Walau aku tahu, berhadapan dengannya membuat jantungku berirama semakin tidak beraturan saja. “Tapi kadang, ada banyak hal yang lebih baik nggak aku tahu.” Jawabku. “Aku minta maaf, Sher.” Sambungnya lagi. Aku hanya tersenyum kecut. Tak tahu harus bagaimana. Kenapa…kamu selalu membuat pikiranku kacau? “Kenapa lo nolak ajakan Zaky?” kata cowok yang berambut harajuku, namanya Ken. “Aku udah bilang kalau aku sibuk, kan?” kataku tak suka. “Tapi, awalnya lo setuju sama ajakan gue.” Zaky membela diri. “Sher, kita harus segera menyelesaikan permainan memuakkan ini.” Kata-kata Okta menyentakku lagi. Aku benar-benar sedang tak ingin memikirkan hal itu. “Aku capek, mau pulang. Maaf, aku duluan”. Aku melangkah dengan tergesa, meninggalkan mereka. Namun, baru beberapa langkah, sebuah tangan kokoh menarik tanganku.
            “Kamu pikir kita nggak capek, Sher? Tolong Sher, jangan egois. Jangan biarin kesialan ini menimpa kita terus, Sher.” Dia memegang pundaku. Memutarkan badanku, agar menghadap kearahnya. Tubuhku bagai disengat arus listrik. Pipiku memanas lagi. Tapi, dia tak menyadari perubahan yang terjadi padaku. “Aku tahu kamu kehilangan,” dia menatapku penuh arti. Dari dulu, aku nggak pernah bisa natap mata kamu. Cuma mata kamu. Aku juga nggak ngerti. “Tapi bukan kamu doang, Sher. Kita juga.” Aku tetap menunduk. “Kamu ingat kan aturan mainnya? Kalau kita yang memulai, kita juga yang harus mengakhirinya.” Ia tiba-tiba melepas pegangannya pada pundakku. Lalu membungkukkan badannya. Dan…dia berlutut! Dia berlutut dihadapanku! Kenapa….kamu selalu bersikap seolah-olah aku berharga bagi kamu? Sedang itu hanya harapan kosong.
            “Jadi, aku mohon dengan sangat, Sher. Aku ingin kita selesaikan permainan ini malam ini juga. Demi kebaikan kita bersama, Sher. Demi kamu, aku, Okta, Zaky, Ken, dan..” ia terlihat menelan ludah sebentar sebelum melanjutkan perkatannya. “Dan Anggun.” Katanya meracau.
*
                        Waktu memang berlalu sangat cepat. Mengisap kesadaran, dan membiarkan anak manusia terlena dengan kehidupan. Tak menyadari detik demi detik –yang begitu berharga- terlewatkan begitu saja. Tanpa terasa, kebersamaan ini sudah lebih dari tiga tahun. Semenjak pertemuan dengan mereka diawal September tiga tahun yang lalu. Selama tiga tahun pula, persahabatan ini semakin kental. Walau hanya sekedar teman les. Di sinilah kebahagiaanku. Various Music Course. Di sinilah Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang yang awalnya, aku tak pernah berpikir mereka akan menjadi sepenting ini dalam hidupku (walau hanya bertemu dua kali seminggu). Diantara teman-teman yang lain, aku paling nyaman berteman dengan Okta, Anggun, Zaky, Ken, dan Putra. Begitupun dengan mereka. Kami sering berbagi cerita, terutama tentang mimpi-mimpi kami yang masih semu. Kami juga punya nama untuk persahabatan kami. Starlet (artinya little star). Begitulah kami dikenal di tempat kursus.
            Tahun ini, adalah tahun terakhir ketiga lelaki itu di MVC(mereka setahun lebih tua dari kami). Kami memutuskan untuk berkumpul di sebuah cafeteria milik Papa Ken. Ketika sedang berbincang, Putra tiba-tiba menceritakan tentang sebuah permainan magis yang ia temui di desanya. Kami tertarik untuk mencobanya. Tapi, permainan itu sungguh berbahaya. Sekali kita bermain, dan apabila belum mengakhirinya, maka kita akan terjebak didalamnya untuk selamanya. “Nggak apa kali, mending kita coba aja. Daripada penasaran. Apa namanya, Put?”. “Truth or Dare. Serius mau main?” kami mengangguk dengan antusias.
            Tubuh Putra menegang. Ia lalu menutup mata. “Saya dan kelima kawan saya, bersungguh-sungguh ingin bermain Truth or Dare.” Putra merapalkan kalimat itu berulang-ulang. Kami memandangnya bingung. Tiba-tiba, suasana disekitar kami menjadi begitu dingin. “Kok jadi dingin gini sih, kak?” tanyaku padanya, yang sudah membuka mata. “Ketika kita bermain, ada yang mengawasi.”. “Eehh, maksudnya apaan, Put? Permainan ini melibatkan makhluk yang..” Putra mengangguk cepat, menjawab pertanyaan Zaky. Muka kami memucat. Putra mengeluarkan sebuah botol plastik, memutarnya. Botol itu berhenti dan mengarah ke Zaky. “Truth or Dare?” Tanya Putra. “Truth.” Jawab Zaky. “Terus kita ngapain, kak?” Tanya Anggun. “Salah satu diantara kita akan dipilih.” Aku tak mengerti apa maksudnya. Tiba-tiba Okta terlihat begitu menggigil. “Ta, kamu kenapa Ta? OKTA?” jeritku, mengguncang tubuhnya. Putra berlari kearahnya, dan berbisik ditelinganya. “Ta, dengerin gue. Lo harus cepet melontarkan pertanyaan buat Zaky. Gunain hati lo, Ta. Jangan terpengaruh dengan apapun. Lo pasti bisa, Ta. Ayo, Ta! Lawan rasa dinginnya.”. “Rrrr…g..gue gak kuat, kak.” Ia menggigil semakin hebat. “Ta, lo bisa, ta! Lo pasti bisa!”. “K..kak Z..zak..ky, siapa yang paling elo sayang..hhh, d..di antara Starlet?” setelah sekuat tenaga melontarkan pertanyaan itu, akhirnya Okta terdiam lemas, sudah tak menggigil lagi. “Ky, lo harus cepet jawab! Kalau nggak, lo bakal terancam bahaya!” seru Putra lagi. “Ken!” ucapnya spontan. Kami semua terkikik geli, kecuali Ken yang mendorong bahu Zaky sambil bersungut-sungut.
            Putra memutar botolnya lagi. Selanjutnya bagian Ken memilih dare, dan aku yang diserang menggigil yang begitu hebat. Setelah melontarkan suatu tantangan, Ken langsung melakukannya. Karena kata Putra, jika Ken tidak segera, bahaya akan menyerangnya. Entah bahaya apa yang dimaksud. Selanjutnya Putra memilih truth, dan yang menggigil Zaky. Setelah itu bagian Okta yang memilih truth. Giliran Anggun menggigil, tapi akhirnya sukses. Lalu, botol berhenti diAnggun, ia memilih dare. Putra menggigil, giginya bergemeletuk begitu keras. Badannya bergetar hebat. Sepertinya, gigilan Putra paling parah diantara kita. Dia tak kunjung melontarkan tantangan untuk Anggun. Sehingga tubuhnya berguncang makin hebat. Aku mendekat kearahnya, dan berbisik. “Kak, kamu bisa kak! Ikutin hati kakak. Jangan terpengaruh dengan apapun. Lawan rasa dinginnya, kak.” Mata Putra menatap Anggun dengan nyalang. Ia sepertinya tidak bisa berpikir jernih. Ia menatapi Anggun dari atas hingga bawah. Dan matanya berhenti ditangan Anggun. Yang sedang memegang kunci mobil. “G..gue tantang el..lo..hhh..ngendarain mobil dengan gas-full. B..bolak-balik. D..dari sini, ke rumah lo. D..dari rumah lo, ke sssi..ni lla..ggi” Anggun tersentak, begitupun kami. “Lo, serius kak?” wajahnya pucat. Tapi Putra tak menjawab. Ia terlihat lemas dan memandang kosong. “Lo udah gila apa ngasih dare kaya gitu?” Ken tak percaya dengan perkataan Putra. “Ganti, kak! Itu bahaya buat Anggun.” Putra menggeleng lemas menjawab ucapan Okta. “Maafin gue, Gun. Gue gak bisa ngontrol rasa dingin gue. Tapi, apa yang udah terlontar, nggak bisa gue tarik lagi. Lo harus segera melaksanakannya. Sebelum…” Anggun mengangguk cepat, mengerti. Berlari. Meninggalkan kami. Dan segera melaksanakan dare-nya.
            Tapi saat itu, angin malam berbau duka menghantarkan Anggun menghembuskan nafas terakhirnya. Kami tetap diam di tempat. Menunggu Anggun kembali. Semuanya hening. Mulut kami tak henti melantunkan doa demi keselamatan Anggun. Namun, sudah dua jam kami menunggu, Anggun tak kunjung datang. Kami semakin gelisah. Hingga sebuah alunan sendu terlantun….dering handphone Okta. Dari sepupu Anggun. Mengabarkan kabar duka itu. Firasat buruk yang menghantui kami, menjelma menjadi kenyataan. Kecelakaan naas, menimpa Anggun. Kami langsung berlari meninggalkan tempat itu. Dan kami, melupakan satu hal. Permainan, yang tidak kami lanjutkan.
*
            Kafe yang sama. Dengan suasana sama. Sudah lebih dari tiga tahun kami mengabaikan permainan ini. Tak kunjung menyelesaikannya. Hingga tiap malam, selama tiga tahun itu, masing-masing dari kami selalu bermimpi buruk. Hidup kami tak pernah sedamai dulu. Kesialan selalu menimpa kami. Semenjak Anggun pergi, akupun menghapus jejakku. Menghindar dari mereka, terutama Putra. Aku yang paling terpukul dengan kepergian Anggun. Karena dia temanku dari kecil. Aku sangat kehilangan dia. Tawanya, candaannya, sifat humorisnya.
            Aku tak tahu harus bagaimana. Aku menyukai Putra. Tapi, (menurutku) Putralah yang menyakitiku sedalam ini. Karena Anggun, adalah sumber bahagiaku. Aku masih terdiam kaku. Putra menatapku, merasa bersalah, “Aku nggak perlu muterin botolnya, karena kamu yang terakhir, Sher. Ayo kita selesaikan semua malam ini!” Aku mengangguk mengerti, dan langsung bergumam kecil, “truth.”. Seketika tubuh Ken menggigil. Matanya mengernyit. Tangannya bersedekap, menahan dingin. “A..pa..hh..yyang bba..kkal lo lakuin tter..hadd..dap Pputt..hh..rra?” aku terdiam lemas, kenapa Ken harus menanyakan hal semacam itu?
            “Sher! Ayo cepet jawab, Sher!” Okta berteriak ditelingaku. Aku benar-benar bingung. Bagaimana aku bisa menjawab, sedang aku tak tahu jawabannya? Pikiranku kosong. Dan aku merasakan perubahan besar pada tubuhku. Paru-paruku sesak, jantungku sakit, kepalaku pusing. Ada sesuatu yang menghimpit tubuhku. Hingga aku kehilangan kesadaran. Tapi, sesaat kemudian, ragaku terbangun lagi. Tapi, tidak! bukan aku yang berada di sana. “Kalian mengulur waktu terlalu lama,” tidak, itu bukan suaraku. “Dan Sherly menjawab terlalu lama. Maka, inilah saatnya mengucap salam perpisahan.” Suara itu begitu menyeramkan. Mata itu memerah. Sherly palsu tertawa, melengking. Teman-temanku panik. “PUT! KITA HARUS GIMANA?” teriak Zaky. “Nggak ada cara lain.” Putra menghela nafas berat. “Kita harus menukar Sherly dengan barang kesayangan kita, kalau pengen dia selamat.” Okta mengeluarkan BB-nya, Zaky melepas jaketnya, Ken menaruh jam tangannya, dan Putra meletakkan helm abu kesayangannya.
            “KITA PELUK SHERLY ERAT!” komando Putra. Mereka berempat berangsur memelukku –yang palsu-. Tapi, tubuh itu meronta hebat. Mengibaskan tangannya. Mencakar semampunya, hingga Putra terkena cakaran itu. Tapi, ia tak bereaksi, malah semakin mengeratkan pelukannya. Semakin lama, kekuatan tubuh itu semakin berkurang. Hingga akhirnya, tubuh tersebut jatuh, terkulai lemas di lantai. (Bersamaan dengan itu, barang-barang yang tadi diletakkan Okta, Putra, Ken, dan Zaky ikut lenyap).

            Mereka juga nampak begitu lemas. Beberapa menit kemudian, ragaku kembali membuka mata. Aku linglung, tak mengerti apa yang baru saja terjadi, dan mendampati diri berbaring dilantai. Lalu, aku ingat. Pertanyaan Ken, teriakan Okta, dan sesuatu aneh yang menimpa diriku. Aku menatap keempat temanku yang tersenyum kecil kepadaku. Peluh bercucuran diwajah mereka. “Aku nggak tahu harus jawab apa. Akhirnya aku diam saja.” Kataku memberitahu. “Kenapa…kamu harus bingung? Bukannya kamu membenciku?” Tanya Putra lembut. Jantungku berdegup tak beraturan lagi. Aku menggeleng. “Aku nggak pernah bisa benci kamu, walau aku ingin. Karena,” aku menghela nafas berat, “Hanya kamu yang ada di sini (aku menunjuk kepalaku) dan di sini (aku mendekap jantung –hati-ku)” Putra terkesiap, pun dengan yang lainnya. “Kamu gak tahu betapa tersiksanya aku ngadepin semua ini. Saat perasaan sakit dan rindu menyatu, berlomba untuk menunjukan mana yang lebih dominan. Tapi, aku nggak pernah tahu jawabannya.” Putra tersenyum, “So do I.” ujarnya pelan. Aku terlonjak. Teman-teman menyorakiku. Kami tertawa bersama. Menyambut hangat persahabatan yang telah kembali. Melupakan luka lama dan menjadikannya sebagai pelajaran berharga.
Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...