Living The Dream: A Little Story About Dream (Part 2)


Living The Dream: A Little Story About Dream (Part 2)

oleh Nurina Maretha, alumni SMAN 1 Purwakarta, mahasiswi Sekolah Farmasi ITB angkatan 2013.

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat ulang tahun terlebih dahulu untuk Mago. Semoga semakin sukses dengan kepengurusan yang baru. Saya sangat mengapresiasi kinerja tim Mago 2012-2013 dengan pemimpin redaksi yang hebat dan beberapa teman dari kompak ITB juga ikut tergabung. Sedikit cerita, sebenarnya dulu saya ingin sekali bergabung dengan Mago, hanya saja tidak tahu kapan open recruitment, tiba-tiba Mago sudah berkembang. Harapan khusus dari saya, semoga Mago menjadi organisasi yang diakui di SMAN 1 Purwakarta dan Mago dapat dibaca dalam bentuk hardcopy. Saat ini saya sedang aktif di unit Boulevard (untuk media ITB), semoga 2 tahun lagi bisa jadi pemred hehe. Jadi kalau mau sharing-sharing soal jurnalistik saya akan sangat senang. 
Sebenarnya saya sempat menulis artikel dengan tema seperti ini (http://blogs.itb.ac.id/nurinamaretha/2013/10/27/a-little-story-about-dream-itb/#comment-7), tapi khusus untuk Mago dan adik-adik almamater sekolah saya, saya ingin memberikan kesan yang berbeda. Kebetulan Mago memberi saya kesempatan untuk itu. 
Perjuangan Awal Meraih Mimpi
Kalau sedang sosialisasi soal ITB di depan adik-adik kelas, jadi inget perjuangan tahun lalu. Bukan bermaksud sombong di depan mereka, tetapi malah ingin membantu banyak karena dulu juga saya seperti itu. Pernah ada adik kelas yang bertanya, “Ka, susah nggak sih masuk ITB?” Saya hanya menjawab, “Saat itu sih saya nggak merasa sulit, cuma sering galau. Yang susah itu keluar dari ITB. Hehe.” Kalau ditanya seperti itu sebenarnya jadi ingin cerita banyak. Mungkin kegalauan itu yang bisa disebut perjuangan. 
Saat SMA saya tidak begitu mengincar ITB. Saya masih ingat dengan tugas menulis ekspektasi dari Pak Rusyidi  (http://marethanurina.blogspot.com/2012_09_01_archive.html). Saat itu saya menulis kalau 5 tahun mendatang, saya akan menjadi sarjana Teknik Kimia atau Matematika dari UGM atau UNS. Saya juga ingat, saat itu Pak Rusyidi mereview secara khusus tulisan saya dan mendoakan agar harapan-harapan saya ini terkabul di depan kelas 12 IPA 3. Saya akan selalu ingat dengan tugas ini dan saat satu persatu ekspektasi yang saya tulis tercapai, orang pertama yang saya ingat adalah Pak Rusyidi. 
Saya bukan orang yang mudah terpengaruh dengan berbabagai sosialisasi yang diadakan kakak-kakak alumni pada saat itu. Dulu ingin sekali masuk STAN karena ingin melanjutkan mimpi sepupu saya yang gagal masuk STAN dan akhirnya dia sekarang kuliah di UNS Manajemen 2010. Bahkan setelah diterima di ITB, saya masih berniat untuk mengikuti USM STAN. Tapi saya pikir, jika saya mengikuti USM STAN itu hanya membuang-buang waktu. Kalau seandainya lulus USM STAN, saya harus memilih salah satu diantara ITB dan STAN. Pasti ada salah satu yang harus dikorbankan. Dan saya sadar, saat saya menjadi salah satu dari 87 siswa yang diterima di Sekolah Farmasi ITB dari 2287 siswa yang mendaftar, saya sudah manghapus mimpi-mimpi 2200 anak Indonesia. Karena itu saya tidak ingin mengecewakan mereka, saya akan membuktikan kalau saya layak berada disini dan kami yang sudah berada disini akan meneruskan mimpi anak-anak Indonesia untuk memajukan Indonesia. Saran saya untuk adik-adik, pilih SNMPTN benar-benar sesuai minat jangan prospek kerja karena setiap jurusan yang diciptakan itu pasti memiliki prospeknya masing-masing tergantung bagaimana nanti kita berkembang di jurusan tersebut. Jadi, kalau bukan minat lebih baik jangan dipilih. 
Jangan ada perasaan sayang, Allah sudah memberi kita 3 kesempatan di SNMPTN tetapi kita hanya mengisi 1. Satu hal yang dikhawatirkan adalah jika kita diterima di jurusan yang ketiga padahal itu bukan sesuai minat kita. Karena ada 2 kemungkinan, kalau kita ambil pasti saat kita menjalani perkuliahanannya kita tidak maksimal dan resign dari PTN tersebut.  Kalau tidak diambil, seharusnya kamu tidak perlu pilih itu dari awal karena mungkin seseorang yang rankingnya satu dibawah kamu itu akan jauh lebih berkembang di jurusan ini. Jangan berpikiran untuk memilih 3 karena saya tidak ingin ikut SBMPTN. Karena seharusnya persiapan untuk SBMPTN sudah dari awal-awal kelas 3. Menurut saya, tidak perlulah ada pemantapan UN karena saya yakin setiap tahun Smansa pasti lulus UN 100%. Pemantapan SBMPTN itu jauh lebih penting karena siswa-siswi Smansa masih kurang kompetitif untuk jalur SBMPTN.
Merancang Rencana
Awal-awal TPB saya masih berniat untuk ikut SBMPTN. Saya ingin seperti Ka Billy 2009 yang double degree dengan berkuliah di Teknik Sipil ITB dan Ilmu Hukum UNPAD. Sebenarnya dulu saya ingin jurusan sastra, apapun baik Prancis, Inggris atau Indonesia. Tapi orangtua saya melarang karena mereka masih ragu mengenai prospeknya. Orangtua saya bukan tipe orangtua yang menuntut banyak hal bahwa saya harus kuliah di jurusan A. Mereka membebaskan saya dan lebih mengarahkan jika saya sedang mempertimbangakan sebuah jurusan. Sampai suatu saat orangtua saya sangat menginginkan saya masuk ITB entah karena apa.
Akhirnya saya memperhitungkan semua fakultas (12 fakultas yang pelajari) yang ada di ITB dan masih sesuai dengan passion saya. Dengan banyak arahan dari Pak Sidik (Guru yang paling berkesan selama saya sekolah di Smansa), akhirnya saya memilih Sekolah Farmasi. Orangtua saya merestui dan saya harap karena ini adalah ridho dari orangtua, semoga ini juga ridhonya Allah dan Allah akan melancarkan jalan saya selama menjalani perkuliahan di ITB. Target saya di ITB tidak muluk-muluk. Berkaca dari IP semester 1, saya tidak berharap cumlaude, tapi bisa mempertahankan IP sehingga IPK berada diatas 3. Tidak ingin tergabung di KM karena saya ingin lulus tepat waktu (5 tahun dengan profesi apoteker), tetapi ikut cukup aktif di beberapa kepanitiaan. Dan saya juga ingin terus aktif menulis untuk sendiri ataupun Boulevard serta cukup aktif ketika nanti sudah masuk himpunan Ars Praeparandi (Himpunan Mahasiswa Farmasi).
Cerita Awal Perkuliahan
Bicara soal perkuliahan yang sudah berlangsung selama satu semester. Saya merasa kesulitan di awal-awal. Benar-benar shock dengan sistem perkuliahan yang jauh berbeda dengan sekolah. Apa saja perbedaannya? Mungkin adik-adik bisa tahu secara garis besar dengan membaca artikel-artikel atau bahkan sampai menonton FTV. Dulu juga ketika saya masih SMA, saya merasa “Oh jadi gini bedanya kuliah sama sekolah.” Tetapi setelah dijalani, Mon Dieu, berat sekali rasanya. Banyak sekali hal yang membuat saya menangis seperti homesick, berada diantara teman-teman yang individualis dan hebat-hebat, nilai-nilai yang tidak sekeren sewaktu SMA, dosen-dosen yang tidak peduli dengan mahasiswanya dan masih banyak lagi. Jadi saran saya, siapkan mental untuk adik-adik yang ingin masuk ITB. Mungkin selama sosialisasi kami selalu menceritakan yang indah-indah agar adik-adik tertarik masuk ITB. Tetapi menurut saya, hal ini juga perlu disampaikan karena saya peduli dengan adik-adik kelas saya. Setidaknya adik-adik tidak begitu kaget dan nantinya tidak menyesal masuk ITB. Yang paling utama itu adalah niat dan fokus pada tujuan. Kalau kita memiliki tujuan yang jelas pasti kita juga akan berusaha dan berjuang untuk menggapainya. Berdasarkan fakta dari rektorat, setiap tahunnya sekitar 10% mahasiswa TPB ITB itu gagal baik drop out maupun resign. Mereka yang gagal itu, bukan karena nilai. “Saya yakin kalau soal akademik. Mahasiswa TPB kita itu sudah sangat mampu mengikuti perkuliahan di ITB. Tapi ini masalah adaptasi, banyak mahasiswa yang pintar tapi mentalnya lemah akhirnya resign dari kampus kita.” Ujar Pak Akhmaloka Rektor ITB. 
Saat saya sedang lelah-lelahnya dan merasa terpuruk, saya ingat kata-kata Abi selama di SMA. Saya juga ingat Ayah dan Ibu saya, mereka yang sudah sangat bangga dengan saya bisa berkuliah disini, padahal saya tidak bisa menjadi yang terbaik disini, tidak bisa memberikan yang terbaik untuk mereka. Tapi saya ada dan bertahan disini karena dan untuk mereka. Itulah motivasi saya untuk bangkit kembali. Semuanya terangkum disini: http://blogs.itb.ac.id/nurinamaretha/2013/10/26/quotes-motivation/#comment-4. Saya ingin berterimakasih kepada beberapa adik Smansa orang yang sudah mengapresiasi tulisan saya yang satu ini. Mereka terharu dan ingin menangis membacanya. Bahkan beberapa minggu lalu, Abi menelepon saya dan baru sadar akan tulisan ini. Saya malu sebenarnya kalau tulisan ini sampai dibaca oleh Abi karena masih banyak diksi yang berantakan.
Sekian dulu ya Mago dari saya, terimakasih atas kesempatan mengisi majalahnya. Kritik dan saran akan selalu terbuka. Maaf kalau saya terlalu banyak promosi blog hehe. Untuk adik-adik yang masih bingung soal jurusan dan mulai mempetimbangkan ITB khususnya Sekolah Farmasi bisa langsung kontak saya, sebisa mungkin saya akan memberi saran yang objektif. Semangat belajar untuk adik-adik, yakin kalau Allah itu akan membayar segala bentuk usaha dan do’a kita. Kalaupun kita merasa takdir Tuhan itu tidak adil untuk kita. Percaya, Allah punya rencana yang tak terduga dan jauh lebih baik untuk kita 


***
Kak Nurina bisa dihubungi di akun Twitternya @marethanr

Sumber gambar:
http://www.bates-communications.com

Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...