Wawancara: Calon Ketua OSIS SMAN 1 Purwakarta Periode 2014-2015

Wawancara: Calon Ketua OSIS SMAN 1 Purwakarta
Periode 2014-2015


Profil Para Calon Ketua OSIS
Nama: Widiya Solihat Eka Riani (W)
Kelas: 10 IPA 2

Nama: Fawaz Abizar (B)
Kelas: 11 IPA

Nama: Salsabilla Tiara R (A)
Kelas: 10 IPA 7

Nama: Rayhan Hanif (R)
Kelas: 11 IPA

            Saat GEMPA kemarin, Mago juga mewawancarai para kandidat calon Ketua OSIS lho. Ingin lebih tahu tentang mereka? Simak ya, Mago Readers!

“Assalamu’alaikum, selamat siang. Kami dari Mago minta waktunya sebentar untuk wawancara.”
W : “Wa’alaikumsalam, boleh.”
B : “Iya, boleh.”
A : “Wa’alaikumsalam. Ya boleh, silahkan Mago.”
R : “Ya, boleh.”

“Apa motivasi Akang/Teteh untuk menjadi Ketua OSIS?”
W : “Kalau ditanya soal motivasi, sebenarnya aku ngga terlalu ambisius untuk jadi Ketua OSIS, karena aku sendiri masih merasa belum cocok, apalagi masih kelas 10 dan aku adalah seorang wanita. Jadi seorang pemimpin bagi wanita itu bukan hal yang mudah, ya. Kalau motivasi, kan aku sudah dicalonkan, sudah diberi kepercayaan oleh MPK kelas. Nah gimana caranya kepercayaan itu jangan disia-siakan, harus benar-benar kita manfaatkan dan dipertanggungjawabkan. Kalau aku sudah bilang siap, berarti aku bakal melanjutkan.”
B : “Motivasinya sebenarnya melanjutkan yang kemarin saja ya. Kalau misalnya dilihat tahun kemarin itu sudah bener-bener bagus, sudah perfect. Nah, saya ingin membuat lebih baik lagi dari kemarin. Kalau bisa, melebihi yang kemarin. Kalau misalnya ada perfect, berarti diatas yang perfect.”
A : “Motivasi dari saya sendiri yaitu ingin membuat perubahan dari dalam diri, sama ingin membuat perubahan di dalam Smansa.”
R : “Jadi gini, Kang Arif itu kakak kelas saya dan cukup dekat juga sama saya, jadi motivasi saya sebangai calon Ketua OSIS itu. Saya sudah tahu Kang Arif itu banyak kelebihannya, tapi ada juga kekurangannya. Maka dari itu, sebagai adik kelas saya ingin kekurangannya Kang Arif itu bisa ditambal dengan kelebihan saya ketika sudah menjabat nanti. Jadi, motivasi awalnya itu memperbaiki yang belum baik di tahun lalu.”

“Siapa pemimpin yang menginspirasi Akang/Teteh?”
W : “Kita semua sudah tahu pastinya, idola kita semua, yaitu Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok pemimpin yang luar biasa bagi keluarga, masyarakat, sampai kita meskipun sudah berabad-abad dan tidak hidup di masa beliau, tapi rasa kepemimpinannya masih terasa sampai sekarang.”
B : “Kalau yang paling dekat itu orang tua, yaitu Ayah. Saya punya kesamaan perilaku dan ayah saya itu bisa mengeluarkan suatu solusi dari masalah dengan tenang.”
A : “Nelson Mandela.”
R : “Namanya Anang. Dia adalah TNI, jabatannya Sersan II.”

“Saat hari Jum’at (1 Oktober) kemarin kan calon Ketua OSIS menyampaikan visi dan misi di depan para siswa. Bagaimana perasaan Akang/Teteh?”
W : “Kalau perasaan, aku sih dibawa santai saja, jangan tegang. Kalau aku tegang, nanti aku lupa. Terus aku ga bisa konsentrasi sama apa yang aku sampaikan, jadi aku santai saja, rileks.”
B : “Yang pertama pasti kaget, karena saya ngga menyangka dari awal, bisa berdiri di depan sekian ribu orang murid Smansa yang cerdas, pintar. Jadi salah satu orang yang bakal berpengaruh di Smansa itu pasti kaget banget. Gugup, sekaligus saya bersemangat untuk menyampaikan visi misi saya.”
A : “Deg-degan. Soalnya, dapat diketahui, pertanyaan dari siswa terkadang lebih kritis daripada guru. Kan kalau guru masih formal, jadi pertanyaannya masih bisa diprediksi. Kalau siswa kan enggak.”
R : “Ketika kita di backstage, kita biasa saja, Tapi ketika langkah kita mulai menuju panggung, yang namanya deg-degan, yang namanya nervous itu menyelimuti kita. Yang namanya speechless itu bener-bener. Yang tadinya kita sudah mempersiapkan dengan baik, ketika di depan melihat banyak orang, di depan beribu pasang mata, itu bener-bener blank. Di situ dibutuhkan mental yang kuat.”

“Apa yang akan Akang/Teteh lakukan jika terpilih menjadi Ketua OSIS?”
W : “Organisasi itu ngga harus selalu formal, tapi organisasi itu gimana caranya kita jadi keluarga, jadi gimana caranya biar kita bareng-bareng, kita santai, nggak usah terlalu ketat dengan senior junior. Gimana caranya kita jadi keluarga, tujuan kita sama. Gimana caranya kita bikin Smansa ini Smansa yang, istilahnya, serius tapi santai. Tapi tetap kita anak-anak yang pandai bergaul dan bukan anak yang kaku, dan itu bisa diwujudkan dengan event-event yang menarik.”
B : “Pertama saya buat program kerja, terus mempererat lagi silaturahmi kekeluargaan di OSIS dan siswa Smansa, khususnya.”
A : “Sesuai misi saya, ingin membangun kegiatan OSIS yang bisa memajukan sekolah. Jadi pasti banyak event-event yang harus disempurnakan lagi.”
R : “Dengan motivasi awal saya, yang pertama yaitu untuk menambal kekurangan yang terjadi di periode yang lalu, juga menambahkan suatu hal yang baru. Motto saya di pamflet dan pin adalah “I can do something for a new thing”, jadi saya bisa melakukan sesuatu untuk sesuatu yang baru.”

“Apa yang akan Akang/Teteh lakukan jika visi misi yang telah direncanakan tidak dapat terealisasikan?”
W : “Tentu aku evaluasi dulu. Apa yang aku sampaikan, gimana caranya jangan sampai tidak terealisasikan karena bagaimanapun semua yang harus kita ucapkan harus kita pertanggungjawabkan. Terus ya cari dulu kenapa sebabnya apa yang aku sampaikan tidak terealisasikan. Kalau misalnya itu tidak terealisasikan, berarti itu salah aku dan itu harus aku kembalikan pada diri sendiri dan tidak menyalahkan orang.”
B “Yang pertama pasti saya sedih, lalu saya pikirkan dan saya musyawarahkan apa jalan keluarnya dan mencari apa yang bisa mengganti visi misi yang tidak terealisasikan dengan visi misi yang kalau bisa, lebih baik dan lebih bagus.”
A “Kan visi itu tujuan, misi itu langkah-langkah untuk mencapai tujuan. Kalau misalnya visi saya gagal, pasti saya akan merevisi atau menambah misi-misi saya. Kalau misalnya saya merubah visi lagi nanti tujuannya tambah nggak jelas.”
R : “Apabila visi misi tidak bisa terealisasikan, ya itu. Pemimpin pada dasarnya mempunyai sikap tanggung jawab. Saya harus bisa mempertanggungjawabkan visi misi itu. Mau bagaimana pun, kita harus bisa mewujudkan visi misi kita, dan apabila visi misi kita tidak bisa terwujud, saya siap bertanggung jawab dan siap untuk lengser apabila tidak sesuai dengan yang sudah disampaikan.”

“Sekian dari Mago. Terima kasih atas waktunya, maaf bila mengganggu ya Kang/Teh. Wassalamu’alaikum.”
W : “Iya, wa’alaikumsalam.”
B : “Iya, ngga apa-apa, wa’alaikumsalam.”
A : “Wa’alaikmsalam, sama-sama Mago.”
R : “Iya, sama-sama.”




*Wawancara oleh Luthfya Aulia Putri (@LuthfyaAP) dan Zalinda Firdausyiah (@zzzalin), Tim Redaksi Mago Magazine.

            
Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...