Wawancara: Dwi Ilalang, Sutradara FTV “5 Ritual Juara Turnamen”

Wawancara: Dwi Ilalang, Sutradara
FTV “5 Ritual Juara Turnamen”



Mago : “Siang Om, Kami dari Mago Magazine. Mago itu majalah dinding online di Smansa. Mago biasa ngeliput event-event yang ada di Smansa, berhubung lagi ada shooting di Smansa pertama kalinya ada shooting, jadi Mago liput juga. Boleh minta waktunya buat wawancara ya, Om?”
“Ooh iya boleh boleh.”

Mago : “Kenapa sih Smansa bisa sampai jadi lokasi shooting yang dipilih?”
“Karena Produsernya alumni sini kan, SMAN 1 Purwakarta.”

Mago : “Tapi Smansa cocok kan jadi lokasi shooting?”
“Sementara kalau dilihat dari cerita sih ya sesuai, karena kan ceritanya tentang anak-anak SMA. Sebetulnya kalau shootingnya di Jakarta sih bisa aja, karena yang punya mintanya di kampung halaman, ya kenapa tidak.”

Mago : “Menurut Om, kelebihan apa aja sih yang dimiliki oleh Smansa untuk bisa jadi lokasi shooting?”
“Kalo kelebihan sih sekolahnya gede, jadi tempat untuk pengambilan lokasinya itu enak, lebih leluasa untuk pengambilan gambar. Siswanya juga mendukung, jadinya kita seru. Guru-gurunya juga rame. Jadi buat kita juga “seger nih pada welcome nih”, gitu.”



Mago : “Kalau boleh tahu, FTV ini kapan tayangnya?”
“Kalau tayang ga tau, itu tergantung TV-nya. Belum fix, biasanya nanti di kabari sih.”

Mago : “Kalau bisa sih jangan pas jam sekolah ya Om hehe.”
“Oh nggak, nggak. Paling malem kok biasanya.”

Mago : “Oke. Kendala-kendala yang dihadapi banyak gak sih?”
“Kendalanya sih kayak tadi dibilang, karena baru pertama ada shooting di sini, jadi euforianya masih gede banget. Karena siswanya masih seneng foto-foto, jadi kita mau take mau apa juga masih kehalang-kehalang gitu.”

Mago : “Di Jakarta emang udah pada cuek ya, Om?”
“Iya udah pada ga peduli hehehe. Kalau di sini beda kan. Gak bisa di salahin sih, karena emang beda jadi ya kita ngikut aja. Buat gua sih ya enjoy aja.”

Mago : “Lalu kesan selama shooting di Smansa apa, Om?”
“Asik sih, maksudnya asik liat antusias siswanya yang akhirnya ngedukung ke cerita kita, gitu. Ngedukung banget karena kan ceritanya tentang turnamen membutuhkan keterlibatan siswa sama guru-gurunya juga ngedukung, jadi membuat kita lebih gampang/mempermudah."



Mago : “Om setuju gak dengan anggapan bahwa FTV itu membuat moral remaja jadi agak jelek karena ceritanya tentang cinta-cintaan aja?”
“Gini, kalau untuk itu kan kita terbelenggu sama keadaan industri. Jadi sebetulnya kalau gua bilang setuju, ya setuju banget. Tapi kan kita sebagai pekerja, di sini kan yang lebih berwenang TV. TV lebih bisa menentukan maunya pasar ini ini ini, jadi mereka yang ngedikte kita. Ceritanya begini begini. Kayak yang sekarang kita buat ini sebetulnya ceritanya lebih ke gak masuk akal gitu, tentang mistik. Nah, gua mencoba sebagai director untuk menganulir bagaimana supaya itu jadi sebuah edukasi. Edukasinya gini, siswa di cerita ini kan untuk ikut turnamen dia harus ngelakuin ritual, diarahkan ke seorang paranormal yang ternyata gurunya sendiri. Cuma mereka harus mengikuti beberapa ritual supaya mereka menang. Akhinya gue rubah ceritanya jangan karena ritual itu mereka menang gitu, karena kalau menang berarti menggampangkan masalah. Kalau mau naik kelas ya lu ke dukun aja gak usah belajar, kalau mau kaya ya lu ke dukun aja gak usah kerja, kayak gitu kan. Makanya dibikin di situ gak menang. Apa yang diminta TV, kita coba belokkan lagi, tapi tidak melanggar kode-kode etik.”

Mago : “Ooh iya iya. Om udah berapa lama jadi Sutradara?”
“Dari tahun 2007. Sebelumnya Editor dari tahun 1990.”

Mago : “Suka duka yang pernah dialami selama jadi Sutradara apa aja Om?”
“Bingung juga sih, kalau di sinetron atau di dunia industri gini, sebetulnya udah keseharian kita sampai kadang-kadang kita lupa nama pemain kita siapa, walaupun kadang orang-orang bilang “ngetop banget”, sementara kita “hah ngetop gimana sih”. Karena kan kita udah shooting terus, break sehari dua hari shooting lagi, ganti pemain ganti pemain terus kan sampai akhirnya kita gak tahu pemain ini ngetop apa nggak. Sementara ketika di lokasi semua orang pada heboh, kadang-kadang kita malah gak tau pemain itu siapa, gitu.”

Mago : “Sukanya Om?”
“Sukanya karena tiap kita bikin FTV itu sebagai proses, proses pembelajaran jam terbang. Jadi ya kita latihan atau semacam pematangan aja.”

Mago : “Om pernah jadi sutradara film apa aja?”
“Tahun 2007 itu gue direct Sang Dewi, film yang belum jadi ada Bendera Sobek.”

Mago : “Harapan Om untuk FTV Indonesia ke depannya apa?”
“Hahahaha harapannya sih gak ada, selama di atas kita masih ada yang nyetir itu kita gak mungkin bisa berbuat apa-apa.”

Mago : "Oke, makasih ya Om waktunya. Semoga sukses FTVnya!"

"Iya, sama-sama."

Dwi Ilalang - Lia - Nia - Qonita



*Wawancara oleh Lia Elita (@LiaElro) & Qonita Rabbani (@QonitaRabbani), Tim Redaksi Mago Magazine
**Foto diambil oleh Nia Hoerunnisa (@Niakahfi), Tim Redaksi Mago Magazine


Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...