Cerpen: Time Travelling

Cerpen: Time Travelling



 Di suatu sekolah terdapat dua orang anak bernama Doni & Andri. Si Doni itu anaknya biasa-biasa aja, pinter, tapi dia suka banget sama budaya-budaya Indonesia. Kalau si Andri, beuh gila men, super gaul. Saking gaulnya, dia jadi nganggep remeh budayanya sendiri, katanya sih “kampungan”.

Suatu ketika si Doni dan Andri dapet tugas bareng buat ke suatu museum sejarah. “Ah gila, ngapain sih gue dapet tugas ginian. BETE!!!” Andri belum apa-apa udah ngeluh-ngeluh gaje. “Belum juga dilaksanain, udah ngeluh. Aneh kamu ini, masa gak suka main ke museum?”  kata Doni sambil memasukkan buku ke tasnya.

“Justru lo yang aneh, main kok ke museum sih?” Andri kemudian berjalan keluar kelas, “Gue balik dulu ambil motor, lo juga balik dulu aja ntar gue samper ke rumah lo”.

Singkatnya, Doni & Andri sudah sampai di museum. Mereka berkeliling sebentar sampai mereka tiba di bagian sejarah Indonesia. Saat mereka melihat salinan Teks Sumpah Pemuda, keanehan mulai terjadi. Pertamanya mereka berdua merasakan ada sedikit guncangan. Mereka pikir gempa, tapi anehnya orang-orang tidak ada yang terlihat panik. Keanehan lainnya yaitu saat mereka melihat teks yang dipajang di dinding, teks itu tiba-tiba bersinar! Semakin terang… semakin terang… dan semakin terang.

Kemudian Doni & Andri sudah berada di lingkungan yang berbeda. “Di mana ini? Gue di mana?” Andri sepertinya masih agak shock karena peristiwa tadi. “Eeh… saya juga kurang yakin sih, tapi mirip foto yang tadi saya liat.” pikir Doni.

“Maksudnya? Kita jadi Time Traveller gitu?”

“Hmm apa mungkin kita ada di tahun 1928? Tepatnya 28 Oktober 1928.”

“Hah? Yang bener, lo! Time travel itu kan ga mungkin!”

“Ya tapi buktinya kita ada di depan Gedung Oost-Java Bioscoop, dan kelihatannya rapat keduanya juga akan dimulai. Ayo masuk!” Doni kemudian berlari ke arah pintu masuk.

“Gila! Emangnya boleh apa masuk sembarangan kayak gitu, kalo ketauan penjaganya mau gimana?”

“Ketauan gimana? Toh mereka gak bisa liat kita.”

“Maksudnya?” Andri garuk-garuk kepala saking bingungnya.

“Kalau kita keliatan sama orang lain, tadi kita udah ditangkep sama penjaga yang di depan.” Jelas Doni sambil menunjuk ke gerbang depan.

Kemudian mereka masuk ke dalam ruang rapat. Di sana para pemuda sedang membahas tentang Pendidikan bagi Anak Bangsa. Doni terlihat sangat senang bisa melihat peristiwa ini secara langsung, sedangkan Andri hanya diam saja, tetapi sepertinya dia mulai tertarik dengan hal ini. Sampai kemudian Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro memberi pendapat bahwa anak Indonesia harus mendapat pendidikan kebangsaan, dan mendapat keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

“Oh, jadi dari sini asal mulanya pelajaran PKn masuk ke kurikulum.” Kata Andri. “Kamu punya ketertarikan juga sama hal kayak gini ya?” Doni melihat Andri dengan tatapan jahil. “Gak juga kok, cuma denger aja.”

Kemudian di depan mereka muncul cahaya yang sangat terang, mereka pun kembali ke museum. “Kita balik lagi!” Andri terlihat kegirangan. “Yah, padahal saya masih ingin lihat rapat itu.” kebalikannya, Doni malah terlihat sedikit kecewa.

“Masih untung bisa balik, dasar!” Andri kelihatannya agak kesal saat Doni berbicara seperti tadi. Akhirnya mereka meneruskan menyelesaikan tugas mereka. “Akhirnya selesai, ayo kita pulang,” kata Doni sambil berjalan ke pintu keluar.

“Eeh… Doni, kapan-kapan mau gak ajarin sejarah Indonesia ke gue?” kata Andri saat menyalakan mesin motornya.

“Boleh saja sih kalau saya gak sibuk ya.”

“Boleh? Asiiik!”

***TAMAT***



*ditulis oleh Ilman Muyassar (@IlmanMuyassar48), Tim Redaksi Mago Magazine



Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...